Pada keterbataan perasaan dan kelu kenyataan yang akhir-akhir ini menyapa kita, aku menyadari bahwa yang telah ditakdirkan tak bisa diganti.
Kamu, adalah malam dan pagi terbaik yang terus berulang. Kepalamu dipenuhi waktu. Dan tubuhmu adalah ketabahan yang utuh.
Setiap hari, aku mengutara kata-kata yang tersusun dari kesah yang payah, dan untuk semuanya, kamu selalu punya harapan yang mapan.
Rumah kita hari ini dibuat dari tumpukan kerelaan, dari rencana yang belum matang, dan dari doa-doa kepada Tuhan.
Kita sekarang tahu, ke mana kita mesti pulang, bukan?
Resnaj, 040618
Minggu, 03 Juni 2018
Selasa, 13 Maret 2018
Tentang Menerima dan Mengejar Suatu Hal
Ada hal yang kerap lupa saya lakukan
selama tinggal di sini. Adalah bersyukur, perasaan yang sering kalah oleh begitu banyak keinginan yang belum terkabul.
Akhir-akhir ini, urusan kehidupan telah lihai menciptakan kebisingan di dalam kepala saya. Saya memikirkan banyak sekali rencana yang entah matang atau tidak. Saya hanya merasa perlu menata masa depan dengan lebih baik.
Dua tahun hidup di Sumatra tanpa menciptakan karya-karya yang berarti, membuat saya tidak pernah merasa baik-baik saja. saya selalu menghibur diri sendiri dengan mengingat lagi tujuan utama kehidupan ini. Allah hanya meminta saya untuk beribadah dengan baik. Dengan ilmu. Berbuat baik. Dan mencegah orang lain berbuat tidak baik.
Lantas sudah sejauh mana ilmu yang saya dapatkan? Hal itulah yang selalu membuat saya selalu mengingat kembali rencana-rencana hidup saya sebelumnya.
Setelah mempertimbangkan hal ini begitu lama, akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke Jawa dan mengejar sesuatu yang selama ini saya inginkan.
Menerima kenyataan bukan berarti berhenti mengejar hal lain di depan sana. Saya masih perlu menuliskan impian-impian saya di kertas sampai kapan pun. Memanfaatkan sebaik mungkin setiap kesempatan. Dan mensyukuri semua yang sedang Allah amanahkan.
Riau, 13 Maret 2018
selama tinggal di sini. Adalah bersyukur, perasaan yang sering kalah oleh begitu banyak keinginan yang belum terkabul.
Akhir-akhir ini, urusan kehidupan telah lihai menciptakan kebisingan di dalam kepala saya. Saya memikirkan banyak sekali rencana yang entah matang atau tidak. Saya hanya merasa perlu menata masa depan dengan lebih baik.
- Kadang memang, ambisi yang saya miliki seolah hanya membuat saya tidak pernah merasa cukup. Padahal bukan itu. Saya hanya merasa perlu mengejar pencapaian yang lain. Saya tidak pernah tenang jika harus membiarkan hidup saya mengalir begitu saja setiap waktunya. Saya tahu segala hal akan bermuara ke tempat yang sama, tapi kita bisa memilih jalan mana yang kita inginkan.
Dua tahun hidup di Sumatra tanpa menciptakan karya-karya yang berarti, membuat saya tidak pernah merasa baik-baik saja. saya selalu menghibur diri sendiri dengan mengingat lagi tujuan utama kehidupan ini. Allah hanya meminta saya untuk beribadah dengan baik. Dengan ilmu. Berbuat baik. Dan mencegah orang lain berbuat tidak baik.
Lantas sudah sejauh mana ilmu yang saya dapatkan? Hal itulah yang selalu membuat saya selalu mengingat kembali rencana-rencana hidup saya sebelumnya.
Setelah mempertimbangkan hal ini begitu lama, akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke Jawa dan mengejar sesuatu yang selama ini saya inginkan.
Menerima kenyataan bukan berarti berhenti mengejar hal lain di depan sana. Saya masih perlu menuliskan impian-impian saya di kertas sampai kapan pun. Memanfaatkan sebaik mungkin setiap kesempatan. Dan mensyukuri semua yang sedang Allah amanahkan.
Riau, 13 Maret 2018
Sabtu, 06 Januari 2018
Operasi Varikokel di RS Syafira Pekanbaru 2018
Bagi temen2 yang belum tau tentang varikokel, bisa cari artikel khusus tentang varikokel ya. Saya coba ceritain pengalaman suami dioperasi aja. 😀😀😀
Awalnya, suami saya gak mau varikokelnya dioperasi. Soalnya dokter andrologi rs. Awal Bross yang pernah kami temui bilang kalau pasiennya ada yang mengidap varikokel tapi istrinya bisa hamil padahal varikokelnya gak dioperasi. Nah suami jadi optimis untuk mengonsumsi obat saja. Waktu itu suami sempet ngonsumsi obat veridin selama satu bulan. Resep dari dokter androloginya. Dan kami gak bisa mastiin obat itu pengaruhnya kaya gimana.
Bagi yang memilih untuk tidak operasi atau memang belum ada kesempatan operasi, tetep semangat ya. Pasti bisa hamil kalau Allah udah berkehendak. Fight yaaa.
Resna sedih gak? Ngga kok, saya belum pernah menangisi sesuatu yang gak ada. Kalau menangisi kepergian sering. Hahaha
*Buat yang nanya, sekarang udah hamil atau belum, Alhamdulillah udah, ceritanya di sini ya Cerita Garis Dua
Instagram @resnaj
Awalnya, suami saya gak mau varikokelnya dioperasi. Soalnya dokter andrologi rs. Awal Bross yang pernah kami temui bilang kalau pasiennya ada yang mengidap varikokel tapi istrinya bisa hamil padahal varikokelnya gak dioperasi. Nah suami jadi optimis untuk mengonsumsi obat saja. Waktu itu suami sempet ngonsumsi obat veridin selama satu bulan. Resep dari dokter androloginya. Dan kami gak bisa mastiin obat itu pengaruhnya kaya gimana.
Seperti yang saya ceritain di artikel sebelumnya, perusahaan gak bisa ngasih rujukan ke awal bross, melainkan ke syafira. Di Syafira gak ada dokter andrologi, jadi kita berobat ke dokter urologi. Kami ngikut aja, karenaa kalau pake biaya sendiri ke awal bross kayanya gak sanggup. Harga obatnya jutaan.
Ketemulah kami sama dokter urologi. Saya ceritain semua hasil pemeriksaan sebelumnya. Sambil liatin hasil analisa sperma dan hasil usg varikokel suami. Terus suami diperiksa lagi. Katanya varikokel yang kiri derajat 2, yang kanan derajat 1. Jalan keluar kalau mau sembuh adalah operasi. Kata dokternya gak ada obat-obatan yang bisa beliau kasih. Terus dokternya bilang varikokel hanya berpengaruh 15% terhadap kehamilan, sisanya banyak faktor lain. Kami mulai bingung. Akhirnya saya minta dokter yakinin saya dan suami untuk operasi. Terus dokternya bilang gak bisa maksa, tapi katanya temennya ada yang operasi varikokel terus beberapa bulan kemudian istrinya hamil.
Ketemulah kami sama dokter urologi. Saya ceritain semua hasil pemeriksaan sebelumnya. Sambil liatin hasil analisa sperma dan hasil usg varikokel suami. Terus suami diperiksa lagi. Katanya varikokel yang kiri derajat 2, yang kanan derajat 1. Jalan keluar kalau mau sembuh adalah operasi. Kata dokternya gak ada obat-obatan yang bisa beliau kasih. Terus dokternya bilang varikokel hanya berpengaruh 15% terhadap kehamilan, sisanya banyak faktor lain. Kami mulai bingung. Akhirnya saya minta dokter yakinin saya dan suami untuk operasi. Terus dokternya bilang gak bisa maksa, tapi katanya temennya ada yang operasi varikokel terus beberapa bulan kemudian istrinya hamil.
Suami saya bilang, katanya mau coba pakai obat saja. Terus dokternya mempersilakan. Terus saya coba yakinin suami untuk operasi aja. Dokternya juga bantu jelasin tentang operasinya. Katanya gak akan ada efek samping. Saya takut juga kalau varikokelnya tambah parah kalau dibiarin. Dan mumpung pengobatannya ditanggung perusahaan. Terus saya nanya biaya operasinya, jawaban dokternya mirip di sinetron 😂😂😂, katanya kalau masalah biaya tanyakan saja nanti di kasir.
Dan akhirnyaaaaaa setelah berpikir sejenak suami saya pun setuju dioperasi. Kami sama-sama nentuin jadwal, tapi sebelumnya saya minta bantuan ke dokternya supaya biaya operasi seluruhnya dipastikan ditanggung perusahaan. Dan bener aja, susternya langsung sibuk urus sana sini, telepon sana sini. Kami hanya menunggu untuk mendapat kamar rawat inap. Sekitar 1 jam akhirnya proses administrasi selesai, dan kami dapet kamar vip.
Hari sabtu abis shalat isya kami diantar oleh suster ke kamar. Kami gak ada persiapan operasi. Padahal ternyata nginep di rs itu kami butuh sejadah, anduk, alat mandi, selimut, dan baju ganti. Untungya ada saudara di pekanbaru yang bisa bantu itu semua.
Jam 2 subuh suami bangun untuk saur, karena harus puasa 6 jam sebelum operasi. Operasi dilakukan jam 10. Agak ngaret karena dokternya harus operasi pasien lain. Saya cuma bisa nunggu di luar. Sejam kemudian suami saya keluar dari kamar operasi. Suami gak sadar dan dipasangin tabung oksigen. Setengah jam suami gak bangun-bangun, akhirnya dibangunin dokter.
Gak lama kemudian kami balik ke kamar awal. Nah terus suami cerita kalau dia milih dibius total karena selama operasi gak mau banyak pikiran. Dokter bius dan perawatnya sempet ngebujuk suami untuk bius lokal, tapi ternyata dokternya kalah ngeyel. Haha jadi dengan wajah kesel dokternya nyuntikin obat bius total ke selang infus. Tiga detik kemudian katanya suami saya gak inget apa-apa.
Gak lama kemudian kami balik ke kamar awal. Nah terus suami cerita kalau dia milih dibius total karena selama operasi gak mau banyak pikiran. Dokter bius dan perawatnya sempet ngebujuk suami untuk bius lokal, tapi ternyata dokternya kalah ngeyel. Haha jadi dengan wajah kesel dokternya nyuntikin obat bius total ke selang infus. Tiga detik kemudian katanya suami saya gak inget apa-apa.
Pascaoperasi, suami jadi susah buang air kecil bejam-jam, sempet mau pasang kateter, tapi akhirnya berhasil buang air kecil setelah perut bagian bawahnya dikompres air panas dan suami maksain ke kamar mandi.
Karena bius total, suami muntah2 terus setiap abis minum dan makan, tapi besoknya Alhamdulillah bisa makan kaya biasa. Ada 2 sayatan bekas operasi. Masing-masing 4 cm. Letaknya sekitar setengah jengkal di bawah pusar. Jenis jahitannya yang gak perlu dilepas. Jadi hari seninnya suami bisa pulang. Suami harus ganti perban di poliklinik terdekat 3 kali sehari. Tapi seminggu kemudian, luka sayatan udah kering. Selama seminggu gak sempet ganti perban.
Kami diminta kembali ke rs. Syafira 3 bulan kemudian untuk cek sperma. Kayanya setelah obat dari dokter habis, suami bakal konsumsi fertilaid starter pack lagi. Mohon doanya semoga setelah tiga bulan hasil analisa spermanya gak bermasalah lagi. Semoga ikhtiar kita Allah catat sebagai amal baik. Aamiin.
Bagi yang memilih untuk tidak operasi atau memang belum ada kesempatan operasi, tetep semangat ya. Pasti bisa hamil kalau Allah udah berkehendak. Fight yaaa.
Resna sedih gak? Ngga kok, saya belum pernah menangisi sesuatu yang gak ada. Kalau menangisi kepergian sering. Hahaha
*Buat yang nanya, sekarang udah hamil atau belum, Alhamdulillah udah, ceritanya di sini ya Cerita Garis Dua
Instagram @resnaj
Kamis, 04 Januari 2018
Cek Sperma di RS Awal Bross & Keputusan Memilih Operasi di RS Syafira Pekanbaru
Setelah berpikir berulangkali dan minta izin suami, akhirnya saya memutuskan untuk membagikan cerita ini. Jadi ceritanya,
Pertama, saya melakukan program kehamilan di RS Syafira. Ditangani oleh dokter kandungan. Hasilnya, sel telur banyak tapi berukuran kecil. Saya diduga pcos. Selanjutnya saya melakukan HSG. Ditangani oleh dokter Spesialis Radiologi di RS. Syafira. Hasilnya kedua tuba saya dinyatakan paten. Normal, tidak ada penyumbatan.
Pertama, saya melakukan program kehamilan di RS Syafira. Ditangani oleh dokter kandungan. Hasilnya, sel telur banyak tapi berukuran kecil. Saya diduga pcos. Selanjutnya saya melakukan HSG. Ditangani oleh dokter Spesialis Radiologi di RS. Syafira. Hasilnya kedua tuba saya dinyatakan paten. Normal, tidak ada penyumbatan.
Setelah saya menjalani HSG, suami saya melakukan cek sperma di lab. Paramita. Lalu diketahui bahwa sperma suami dinyatakan oligoasthenoteratozoospermia (OAT). Sperma suami saya jumlahnya sedikit, geraknya lambat, bentuknya abnormal.
Dokter kandungan di Syafira yang membaca hasil lab suami meminta kami untuk langsung menemui dokter spesialis urologi, agar penyebab oat bisa diketahui. Hanya saja, kami tidak mengikuti sarannya. Banyak hal yang ingin kami pertimbangkan terlebih dahulu. Termasuk pertimbangan biaya. Dalam hal ini, perusahaan tempat suami bekerja tidak memberikan bantuan untuk program hamil.
Akhirnya kami tidak melanjutkan program kehamilan di RS Syafira. Kami memilih mencari obat herbal yang banyak direkomendasikan. Terpilihlah obat Fertilaid. Obatnya belum ada di apotek-apotek di Indonesia karena obat import. Jadi kami membeli Fertilaid di online shop. Saya mengonsumsi 1 botol fertilaid for women. Suami mengonsumsi Fertilaid starter pack selama 2 bulan.
Bulan November kami kembali ke Pekanbaru, dengan niatan melakukan analisa sperma lagi di Lab Paramita dan analisa sel telur di RS. Syafira. Kami ingin mengetahui pengaruh fertilaid yang kami konsumsi. Sayangnya saat itu RS. Syafira tidak membuka poliklinik dan semua laboratorium tutup karena tanggal merah. Waktu yang kami miliki di Pekanbaru tidak lama, akhirnya kami mencari rumah sakit yang bisa melakukan analisa sperma hari itu juga. Salah satu rumah sakit yang memiliki lab adalah RS. Awal Bross.
Di RS. Awal Bross suami tidak bisa langsung melakukan analisa sperma. Kami harus menemui dulu Dokter spesialis andrologi (Sp. And) untuk mendapat rekomendasi ke lab. Di sinilah cerita kami mulai terasa serius. Huhu.
Kami akhirnya bertemu dengan dokter andrologi RS. Awal Bross. Kami memperlihatkan hasil lab dari Pramita. Dokternya curiga suami memiliki varikokel (pembengkakan pembuluh darah di skrotum). Akhrinya dilakukan uji awal dengan alat sederhana, dugaan dokter pun benar. Lalu suami diminta untuk melakukan USG. Katanya, hasil USG bisa memudahkan pengurusan BPJS. Saat itu juga kami langsung pergi ke ruang radiologi, dan suami melakukan USG.
Akhirnya kami tidak melanjutkan program kehamilan di RS Syafira. Kami memilih mencari obat herbal yang banyak direkomendasikan. Terpilihlah obat Fertilaid. Obatnya belum ada di apotek-apotek di Indonesia karena obat import. Jadi kami membeli Fertilaid di online shop. Saya mengonsumsi 1 botol fertilaid for women. Suami mengonsumsi Fertilaid starter pack selama 2 bulan.
Bulan November kami kembali ke Pekanbaru, dengan niatan melakukan analisa sperma lagi di Lab Paramita dan analisa sel telur di RS. Syafira. Kami ingin mengetahui pengaruh fertilaid yang kami konsumsi. Sayangnya saat itu RS. Syafira tidak membuka poliklinik dan semua laboratorium tutup karena tanggal merah. Waktu yang kami miliki di Pekanbaru tidak lama, akhirnya kami mencari rumah sakit yang bisa melakukan analisa sperma hari itu juga. Salah satu rumah sakit yang memiliki lab adalah RS. Awal Bross.
Di RS. Awal Bross suami tidak bisa langsung melakukan analisa sperma. Kami harus menemui dulu Dokter spesialis andrologi (Sp. And) untuk mendapat rekomendasi ke lab. Di sinilah cerita kami mulai terasa serius. Huhu.
Kami akhirnya bertemu dengan dokter andrologi RS. Awal Bross. Kami memperlihatkan hasil lab dari Pramita. Dokternya curiga suami memiliki varikokel (pembengkakan pembuluh darah di skrotum). Akhrinya dilakukan uji awal dengan alat sederhana, dugaan dokter pun benar. Lalu suami diminta untuk melakukan USG. Katanya, hasil USG bisa memudahkan pengurusan BPJS. Saat itu juga kami langsung pergi ke ruang radiologi, dan suami melakukan USG.
Suami akhirnya divonis varikokel derajat 2. Jadi varikokelnya tidak menimbulkan gejala sakit atau kelainan secara fisik. Hanya diketahui setelah di USG saja, tapi berdampak pada kualitas sperma. Lalu Dokter andrologi meminta suami untuk melakukan cek sperma kembali. Beliau mengatakan, jika setelah dianalisa hasilnya di bawah 4 juta, maka harus dilakukan pemeriksaan hormon, Jika di atas 4 juta, maka dokter akan memberikan obat-obatan saja.
Keeseokan harinya, pagi sekali suami melakukan cek sperma di laboratorium Awal Bross. Pukul sebelas hasilnya keluar. Hasilnya adalah 4 juta. Hasil sebelumnya saat dianalisa di Pramita di bawah 1 juta. Di situ saya bingung, apakah peningkatan jumlah tersebut karena pengaruh obat fertilaid yang dikonsumsi selama 2 bulan, atau karena kekeliruan pemeriksaan sebelumnya. Soalnya dokternya bilang kalau cek di lab yang bukan rumah sakit bisa saja ada kesalahan. (Dokternya musingin -_-)
Akhirnya kami kembali menemui dokter andrologi tersebut. Dan beliau hanya memberikan resep obat-obatan. Saya bertanya perihal cek hormon, tapi dokter itu menyarankan untuk mengonsumsi obat varikokel dan vitamin terlebih dahulu selama tiga bulan. Jika tiga bulan tidak hamil, maka pilih jalan operasi.
Keeseokan harinya, pagi sekali suami melakukan cek sperma di laboratorium Awal Bross. Pukul sebelas hasilnya keluar. Hasilnya adalah 4 juta. Hasil sebelumnya saat dianalisa di Pramita di bawah 1 juta. Di situ saya bingung, apakah peningkatan jumlah tersebut karena pengaruh obat fertilaid yang dikonsumsi selama 2 bulan, atau karena kekeliruan pemeriksaan sebelumnya. Soalnya dokternya bilang kalau cek di lab yang bukan rumah sakit bisa saja ada kesalahan. (Dokternya musingin -_-)
Akhirnya kami kembali menemui dokter andrologi tersebut. Dan beliau hanya memberikan resep obat-obatan. Saya bertanya perihal cek hormon, tapi dokter itu menyarankan untuk mengonsumsi obat varikokel dan vitamin terlebih dahulu selama tiga bulan. Jika tiga bulan tidak hamil, maka pilih jalan operasi.
Di Awal Bross, konsultasi dua kali, cek sperma, usg, obat-obatan, semuanya abis 3 juta. Mahal di obat. Dan kami diminta kembali pada bulan Desember.
Pulang dari rumah sakit, kami menemui dokter dekat rumah di poliklinik perusahaan. Kami berniat meminta surat rujukan, agar biaya pengobatan ditanggung perusahaan. Kata dokternya, varikokel akan ditanggung perusahaan, karena bukan termasuk ke dalam program hamil. Nah, tapi kami tahu kalau staff guru hanya akan mendapat surat rujukan ke RS. Syafira, bukan awal bross yang diperuntukan bagi para pimpinan perusahaan. Untungnya dokternya bilang bahwa kami akan tetap dirujuk ke rs. awal bross karena rs. syafira tidak memiliki dokter andrologi.
Seminggu sebelum jadwal kontrol, surat rujukan keluar. Hanya saja bukan ke awal bross, tapi ke syafira. Nnnnnasssiiiib. (Harus sadar diri) =D Tempat kami memang di syafira. FYI, rs awal bross memang lebih besar dan memiliki fasilitas yang sangat baik. Masuk ke awal bross kaya masuk ke mall. Toiletnya wangi roti boy pula, Ahaha. Kembali ke topik. Jadi, kami pun diminta menemui dokter urologi di syafira. Demi pengobatan gratis, kami akhirnya mengakhiri pengobatan dengan dokter andrologi di awal bross.
Akhir Desember kami menemui dokter spesialis urologi di Syafira. Dokter tersebut hanya menyarankan untuk segera operasi. Tidak ada jalan lain, katanya sejauh ini varikokel tidak bisa disembuhkan dengan obat. (LAH, SEBELUMNYA UDAH TEBUS OBAT SEKITAR 1,5 JUTA LOH DI AWAL BROSS. ITU APA KABAR wkwkw). Eh tapi setelah konsumsi fertilaid itu kan suami ada peningkatan jumlah, ya mungkin bisa aja sembuh kalau konsumsi obat secara rutin, Wallahualam ya jalan sembuh beda-beda.
Pulang dari rumah sakit, kami menemui dokter dekat rumah di poliklinik perusahaan. Kami berniat meminta surat rujukan, agar biaya pengobatan ditanggung perusahaan. Kata dokternya, varikokel akan ditanggung perusahaan, karena bukan termasuk ke dalam program hamil. Nah, tapi kami tahu kalau staff guru hanya akan mendapat surat rujukan ke RS. Syafira, bukan awal bross yang diperuntukan bagi para pimpinan perusahaan. Untungnya dokternya bilang bahwa kami akan tetap dirujuk ke rs. awal bross karena rs. syafira tidak memiliki dokter andrologi.
Seminggu sebelum jadwal kontrol, surat rujukan keluar. Hanya saja bukan ke awal bross, tapi ke syafira. Nnnnnasssiiiib. (Harus sadar diri) =D Tempat kami memang di syafira. FYI, rs awal bross memang lebih besar dan memiliki fasilitas yang sangat baik. Masuk ke awal bross kaya masuk ke mall. Toiletnya wangi roti boy pula, Ahaha. Kembali ke topik. Jadi, kami pun diminta menemui dokter urologi di syafira. Demi pengobatan gratis, kami akhirnya mengakhiri pengobatan dengan dokter andrologi di awal bross.
Akhir Desember kami menemui dokter spesialis urologi di Syafira. Dokter tersebut hanya menyarankan untuk segera operasi. Tidak ada jalan lain, katanya sejauh ini varikokel tidak bisa disembuhkan dengan obat. (LAH, SEBELUMNYA UDAH TEBUS OBAT SEKITAR 1,5 JUTA LOH DI AWAL BROSS. ITU APA KABAR wkwkw). Eh tapi setelah konsumsi fertilaid itu kan suami ada peningkatan jumlah, ya mungkin bisa aja sembuh kalau konsumsi obat secara rutin, Wallahualam ya jalan sembuh beda-beda.
Nah, karena kami sudah mempertimbangkan ikhwal operasi jauh-jauh hari, suami akhirnya setuju untuk dioperasi. Alasannya, biar gak tambah parah dan mumpung perusahaan mau menanggung biaya operasi yang tidak murah ituuuu. (*Untuk biaya operasi varikokel saya baru dapet info, bulan Juli tahun 2020, di Awal Bross sekitar 11 jutaan dan di RSUD sekitar 8 jutaan. Kalau di Syafira belum tau.)
Dah, akhirnya keesokan hari suami saya dioperasi. Mohon doanya semoga setelah dioperasi, varikokelnya bisa sembuh dan gak kambuh lagi. Aamin. Bagi temen-temen yang mau tahu lebih detail tentang operasinya, bisa baca di Operasi Varikokel di RS Syafira Pekanbaru 2018
Dah, akhirnya keesokan hari suami saya dioperasi. Mohon doanya semoga setelah dioperasi, varikokelnya bisa sembuh dan gak kambuh lagi. Aamin. Bagi temen-temen yang mau tahu lebih detail tentang operasinya, bisa baca di Operasi Varikokel di RS Syafira Pekanbaru 2018
Selasa, 08 Agustus 2017
Program Kehamilan di RS. Syafira Pekanbaru 2017
Usia dua puluh dua, Allah masih memberi kesempatan agar saya mau lebih giat memanjatkan doa. Sudah satu tahun pernikahan, saya belum juga hamil.
Tulisan ini akan sangat detail mengenai pemeriksaan, sebab sebelumnya saya merasa sangat terbantu dengan banyaknya tulisan orang lain yang menceritakan pengalaman program kehamilannya, sehingga saya ingin melakukan hal serupa.
Sejak menikah pada 13 Juli 2016 lalu saya dan suami sudah mencoba beberapa hal sebagai ikhtiar untuk mendapat keturunan. Saya pernah mencoba konsumsi prenagen esensis, asam folat, madu penyubur, obat dari dokter, dan makanan alami lainnya yang katanya membantu kesuburan. Suami saya sudah sering mengonsumsi kemangi, toge, alpukat, jambu, madu dan obat penyubur lainnya. Hanya saja bulan Juli 2017 saya masih datang bulan. Akhirnya kami memutuskan untuk segera melakukan program kehamilan.
Di Pekanbaru, saya sering mendengar nama Dr. Suryo Bawono. Beliau adalah spesialis baby program yang sudah sering berhasil menangani pasien sulit hamil. Melihat instagramnya yang diikuti belasan ribu akun dan perkataannya yang selalu mengaitkan keturunan dengan izin Allah sempat membuat saya memiliki keinginan untuk menemui beliau. Hanya saja suami saya menginginkan program di dokter perempuan. Akhirnya kami pergi ke RS. Syafira pada tanggal 5 Agustus 2017.
Di RS. Syafira, kami memilih Dr. Befimiroza Adam Spog. Kata resepsionis beliau muslim dan sudah senior. Ketika masuk ke ruangannya, di luar ekspektasi ternyata dokternya masih muda. Saya langsung melakukan trans vagina. Di cek rahim, katanya bersih. Sel telur banyak tapi kecil-kecil. (Gejala PCOS)
Setelah itu, dokter meminta suami untuk cek sperma di Prodia. Dan saya diharuskan melakukan pemeriksaan HSG di hari ke-9 haid. Pemeriksaa HSG berguna untuk mengetahui apakah ada penyumbatan atau tidak di tuba palofi. Oh ya, saat trans vagina tersebut saya sedang haid hari ke 6, padahal waktu yang baik untuk cek sel telur adalah hari ke 2 haid. Jadi kalau teman-teman mau cek, mening hari ke dua aja ya.
Hari Senin sore tanggal 7 Agustus kami berangkat kembali ke Pekanbaru. Dua jam perjalanan, akhirnya kami sampai di Prodia pukul 7 malam. Ternyata kami harus booking terlebih dahulu dan kembali pukul 12 siang keesokan harinya. Akhirnya kami ke Paramita, di sana bisa langsung cek dan hasilnya bisa diambil pukul 9 pagi keesokan harinya. Biaya pemeriksaan sperma di Paramita Rp. 339.000. Hasil tesnya diceritakan di tulisan berikutnya.
Pulang dari Paramita, saya googling banyak tulisan tentang HSG. Banyak yang menceritakan rasa sakit yang dialami selama HSG. Saya mulai cemas. Ada tulisan yang mengatakan sakitnya HSG seperti sakit melahirkan dan sakitnya sulit dilupain. Saya makin takut. Untungnya, saya menemukan satu blog yang mengatakan bahwa HSG tidak sesakit yang dibayangkan. Blog itulah yang terakhir saya baca.
Keseokan harinya, kami pun langsung ke RS. Syafira. Setelah daftar di resepsionis, petugas radiologi membawa saya ke ruangan. Saya diminta membayar Rp. 650.000 lalu diminta menunggu.
Mulai cemas. Ruangannya di luar ekspektasi. Ternyata di ruang radiologi hanya ada tempat berbaring untuk rongten, tirai untuk ganti pakaian, alat2 entah apa, ruangan tertutup untuk memoto hasil rongten, dan AC yang sangat dingin. Suami saya tidak diizinkan masuk. Semakin khawatir. Badan gemeteran. Dan, proses HSG dimulai.
Saya diminta berbaring menggunakan sarung (sarung atulah wkwk) setelah sebelumnya memasukan obat penghilang nyeri lewat belakang. Dokter memasukan selang yang panjang ke rahim saya lewat vagina. Tidak sakit sama sekali Alhamdulillah. Kemudian Dokter radiologi menyemprotkan cairan kontras untuk mengetahui apakah tuba saya mengalami penyumbatan atau tidak. Jika ada penyumbatan, maka sel telur dan sel sperma tidak akan pernah bertemu. Dan penyemprotan itulah, saat-saat yang mungkin menurut orang lain sakit luar biasa. Alhamdulillah, saya hanya merasa ngilu beberapa detik seperti mules haid dan tidak sesakit yang dibayangkan. Sempat memang bilang sakit ke dokternya, dokternya langsung menghibur dan mengalihkan perhatian. Untungnya dokternya menyenangkan. Namanya Dr. Armelia. Sp. Rad. Ini hasil HSGnya. Oh ya, jangan lupa bawa pembalut, bisa jadi rumah sakit tidak menyediakan. Sebab selama perjalanan pulang cairan kontras yang disemprotkan biasanya akan banyak yang keluar.
Kami diminta kembali ke poli kandungan. Alhamdulillah tidak ada masalah, tidak ada penyumbatan. Dokter akhirnya hanya memberi resep untuk menghilangkan keputihan dan obat penyubur. Di kasir, kami harus membayar 1.750.000 . Saya kaget lagi. Soalnya biaya HSG sudah bayar. Ternyata obat penyubur suami yang memang mahal. Sekitar 1.200.000. Saya dan suami berdiskusi terlebih dahulu dan memutuskan untuk menebus obat keputihan saja. Jadi kami hanya membayar Rp. 550.000.
Kesimpulannya, saya menghabiskan biaya sekitar Rp. 1.795.000 untuk transvagina, cek sperma, cek HSG, pembersihan vagina dari keputihan, obat keputihan, konsultasi dokter 2 kali, dan biaya administrasi rumah sakit 2 kali. Dan kami belum menebus satu pun vitamin penyubur. Masih ingin mencoba makanan penyubur yang alami. Dan memperbanyak doa. :')
Tentang Dr. Suryo Bawono, tetangga saya sudah cek ke sana. Kita harus menyiapkan uang sekitar 2 juta atau lebih untuk pertama konsul (trans-v suntik, konsultasi, madu habbat, minyak ikan, dll). Mungkin biaya konsul tiap orang akan berbeda tergantung hasil pemeriksaan. Nah menurut hemat saya, jika ingin program kehamilan baiknya segera minta rujukan HSG dan cek sperma. Soalnya takutnya sudah konsumsi obat untuk 2 bulan tapi ternyata ada masalah di sperma dan hasil HSG. Jadi lebih baik memastikan dulu semuanya baik-baik saja. Hmm tapi bagaimana pun setiap dokter pasti lebih tahu apa yang harus dilakukan.
Dari pengalaman 2 kali berobat ini ada hal-hal yang saya pelajari.
1. Banyak mencari info terlebih dahulu tentang apa pun yang berhubungan dengan program kehamilan.
2. Ketika ketemu dokter tanyakan semua hal yang belum dipahami.
3. Ketika di kasir, minta penjelasan obat apa saja yang akan didapatkan, dan pertimbangkan mana saja yang benar-benar dibutuhkan. Jika memang tidak sreg dengan biayanya, bilang saja tidak akan ditebus. Kasir Syafira untungnya ramah dan tidak mempermasalahkan jika kita hanya membayar biaya admin (Rp. 15.000) dan konsultasi dokter (Rp. 90.000).
4. Dokter biasanya memberi resep setelah transvagina, menurut saya jangan dulu ditebus. Sebab jika hasil analisa sperma dan cek HSG bermasalah, bisa jadi kita memerlukan obat lain dan bukan penyubur. Jika semua hasil lab bagus, memang sebaiknya menebus semua obat penyubur yang disarankan dokter.
Begitu :')
Semoga cerita ini bermanfaat. Doakan kami agar lebih mampu bersabar dan pandai bersyukur, pandai menjaga tubuh dan menjaga ibadah. Allah maha mengatur banyak hal. Maha mengabulkan doa meski dengan banyak cara. Saya yakin bahwa banyak hal yang bisa dilakukan selama penantian. Wallahualam. Terima kasih sudah membaca :')
Buat temen-temen yang sudah membaca tulisan ini, bisa lanjut baca tulisan saya yang judulnya Tentang Keputusan Memilih Operasi, soalnya ternyata dari hasil cek sperma, diketahui bahwa suami saya yang bermasalah. Ceritanya bisa di lihat di Tentang Cek Sperma dan Keputusan Memilih Operasi
Tulisan ini akan sangat detail mengenai pemeriksaan, sebab sebelumnya saya merasa sangat terbantu dengan banyaknya tulisan orang lain yang menceritakan pengalaman program kehamilannya, sehingga saya ingin melakukan hal serupa.
Sejak menikah pada 13 Juli 2016 lalu saya dan suami sudah mencoba beberapa hal sebagai ikhtiar untuk mendapat keturunan. Saya pernah mencoba konsumsi prenagen esensis, asam folat, madu penyubur, obat dari dokter, dan makanan alami lainnya yang katanya membantu kesuburan. Suami saya sudah sering mengonsumsi kemangi, toge, alpukat, jambu, madu dan obat penyubur lainnya. Hanya saja bulan Juli 2017 saya masih datang bulan. Akhirnya kami memutuskan untuk segera melakukan program kehamilan.
Di Pekanbaru, saya sering mendengar nama Dr. Suryo Bawono. Beliau adalah spesialis baby program yang sudah sering berhasil menangani pasien sulit hamil. Melihat instagramnya yang diikuti belasan ribu akun dan perkataannya yang selalu mengaitkan keturunan dengan izin Allah sempat membuat saya memiliki keinginan untuk menemui beliau. Hanya saja suami saya menginginkan program di dokter perempuan. Akhirnya kami pergi ke RS. Syafira pada tanggal 5 Agustus 2017.
Di RS. Syafira, kami memilih Dr. Befimiroza Adam Spog. Kata resepsionis beliau muslim dan sudah senior. Ketika masuk ke ruangannya, di luar ekspektasi ternyata dokternya masih muda. Saya langsung melakukan trans vagina. Di cek rahim, katanya bersih. Sel telur banyak tapi kecil-kecil. (Gejala PCOS)
Setelah itu, dokter meminta suami untuk cek sperma di Prodia. Dan saya diharuskan melakukan pemeriksaan HSG di hari ke-9 haid. Pemeriksaa HSG berguna untuk mengetahui apakah ada penyumbatan atau tidak di tuba palofi. Oh ya, saat trans vagina tersebut saya sedang haid hari ke 6, padahal waktu yang baik untuk cek sel telur adalah hari ke 2 haid. Jadi kalau teman-teman mau cek, mening hari ke dua aja ya.
Hmmm, saya banyak bertanya dan dokter menjawab seadanya.
Selesai pemeriksaan, dokter memberi resep 2 jenis obat untuk saya dan 1 jenis untuk suami.
Di kasir, kami harus membayar sekitar Rp. Rp. 1.500.000. Saya kaget, karena setau saya trans vaginal tidak lebih dari 200 ribu. Akhirnya saya tidak menebus obatnya karena ingin mengetahui hasil HSG terlebih dahulu. Jadi di hari pertama cek itu kami hanya mengeluarkan biaya sebesar Rp. 255.000 😅
Selesai pemeriksaan, dokter memberi resep 2 jenis obat untuk saya dan 1 jenis untuk suami.
Di kasir, kami harus membayar sekitar Rp. Rp. 1.500.000. Saya kaget, karena setau saya trans vaginal tidak lebih dari 200 ribu. Akhirnya saya tidak menebus obatnya karena ingin mengetahui hasil HSG terlebih dahulu. Jadi di hari pertama cek itu kami hanya mengeluarkan biaya sebesar Rp. 255.000 😅
Pulang dari Paramita, saya googling banyak tulisan tentang HSG. Banyak yang menceritakan rasa sakit yang dialami selama HSG. Saya mulai cemas. Ada tulisan yang mengatakan sakitnya HSG seperti sakit melahirkan dan sakitnya sulit dilupain. Saya makin takut. Untungnya, saya menemukan satu blog yang mengatakan bahwa HSG tidak sesakit yang dibayangkan. Blog itulah yang terakhir saya baca.
Keseokan harinya, kami pun langsung ke RS. Syafira. Setelah daftar di resepsionis, petugas radiologi membawa saya ke ruangan. Saya diminta membayar Rp. 650.000 lalu diminta menunggu.
Mulai cemas. Ruangannya di luar ekspektasi. Ternyata di ruang radiologi hanya ada tempat berbaring untuk rongten, tirai untuk ganti pakaian, alat2 entah apa, ruangan tertutup untuk memoto hasil rongten, dan AC yang sangat dingin. Suami saya tidak diizinkan masuk. Semakin khawatir. Badan gemeteran. Dan, proses HSG dimulai.
Saya diminta berbaring menggunakan sarung (sarung atulah wkwk) setelah sebelumnya memasukan obat penghilang nyeri lewat belakang. Dokter memasukan selang yang panjang ke rahim saya lewat vagina. Tidak sakit sama sekali Alhamdulillah. Kemudian Dokter radiologi menyemprotkan cairan kontras untuk mengetahui apakah tuba saya mengalami penyumbatan atau tidak. Jika ada penyumbatan, maka sel telur dan sel sperma tidak akan pernah bertemu. Dan penyemprotan itulah, saat-saat yang mungkin menurut orang lain sakit luar biasa. Alhamdulillah, saya hanya merasa ngilu beberapa detik seperti mules haid dan tidak sesakit yang dibayangkan. Sempat memang bilang sakit ke dokternya, dokternya langsung menghibur dan mengalihkan perhatian. Untungnya dokternya menyenangkan. Namanya Dr. Armelia. Sp. Rad. Ini hasil HSGnya. Oh ya, jangan lupa bawa pembalut, bisa jadi rumah sakit tidak menyediakan. Sebab selama perjalanan pulang cairan kontras yang disemprotkan biasanya akan banyak yang keluar.
Kami diminta kembali ke poli kandungan. Alhamdulillah tidak ada masalah, tidak ada penyumbatan. Dokter akhirnya hanya memberi resep untuk menghilangkan keputihan dan obat penyubur. Di kasir, kami harus membayar 1.750.000 . Saya kaget lagi. Soalnya biaya HSG sudah bayar. Ternyata obat penyubur suami yang memang mahal. Sekitar 1.200.000. Saya dan suami berdiskusi terlebih dahulu dan memutuskan untuk menebus obat keputihan saja. Jadi kami hanya membayar Rp. 550.000.
Kesimpulannya, saya menghabiskan biaya sekitar Rp. 1.795.000 untuk transvagina, cek sperma, cek HSG, pembersihan vagina dari keputihan, obat keputihan, konsultasi dokter 2 kali, dan biaya administrasi rumah sakit 2 kali. Dan kami belum menebus satu pun vitamin penyubur. Masih ingin mencoba makanan penyubur yang alami. Dan memperbanyak doa. :')
Tentang Dr. Suryo Bawono, tetangga saya sudah cek ke sana. Kita harus menyiapkan uang sekitar 2 juta atau lebih untuk pertama konsul (trans-v suntik, konsultasi, madu habbat, minyak ikan, dll). Mungkin biaya konsul tiap orang akan berbeda tergantung hasil pemeriksaan. Nah menurut hemat saya, jika ingin program kehamilan baiknya segera minta rujukan HSG dan cek sperma. Soalnya takutnya sudah konsumsi obat untuk 2 bulan tapi ternyata ada masalah di sperma dan hasil HSG. Jadi lebih baik memastikan dulu semuanya baik-baik saja. Hmm tapi bagaimana pun setiap dokter pasti lebih tahu apa yang harus dilakukan.
Dari pengalaman 2 kali berobat ini ada hal-hal yang saya pelajari.
1. Banyak mencari info terlebih dahulu tentang apa pun yang berhubungan dengan program kehamilan.
2. Ketika ketemu dokter tanyakan semua hal yang belum dipahami.
3. Ketika di kasir, minta penjelasan obat apa saja yang akan didapatkan, dan pertimbangkan mana saja yang benar-benar dibutuhkan. Jika memang tidak sreg dengan biayanya, bilang saja tidak akan ditebus. Kasir Syafira untungnya ramah dan tidak mempermasalahkan jika kita hanya membayar biaya admin (Rp. 15.000) dan konsultasi dokter (Rp. 90.000).
4. Dokter biasanya memberi resep setelah transvagina, menurut saya jangan dulu ditebus. Sebab jika hasil analisa sperma dan cek HSG bermasalah, bisa jadi kita memerlukan obat lain dan bukan penyubur. Jika semua hasil lab bagus, memang sebaiknya menebus semua obat penyubur yang disarankan dokter.
Begitu :')
Semoga cerita ini bermanfaat. Doakan kami agar lebih mampu bersabar dan pandai bersyukur, pandai menjaga tubuh dan menjaga ibadah. Allah maha mengatur banyak hal. Maha mengabulkan doa meski dengan banyak cara. Saya yakin bahwa banyak hal yang bisa dilakukan selama penantian. Wallahualam. Terima kasih sudah membaca :')
Buat temen-temen yang sudah membaca tulisan ini, bisa lanjut baca tulisan saya yang judulnya Tentang Keputusan Memilih Operasi, soalnya ternyata dari hasil cek sperma, diketahui bahwa suami saya yang bermasalah. Ceritanya bisa di lihat di Tentang Cek Sperma dan Keputusan Memilih Operasi
Buat yang nanya sekarang udah hamil atau belum, Alhamdulillah udah. Ceritanya bisa dibaca di https://resnaje.blogspot.com/2020/04/cerita-garis-dua.html
Instagram @resnaj
Minggu, 26 Maret 2017
Melamar Pekerjaan
Awal Februari saya melihat brosur lowongan kerja menjadi guru di sekolah milik perusahaan Astra Agro Lestari. Saya langsung mengirimkan lamaran melalui surel. Lima belas Februari 2017, saya mendapat pesan dari perusahaan untuk mengikuti tes berikutnya di Amaris Hotel. Suami saya akhirnya meminta saya untuk mempelajari cooperative learning, mempelajari pertanyaan wawancara kerja, matematika dasar, kurikulum, dan pedagogik.
Langkah pertama yang saya lakukan adalah membaca power point milik suami yang berisi tentang Cooperative Learning. Saya membaca lebih dari 15 jenis cl di SD dan SMP. Ada sedikit bayangan meski tidak bisa saya hafal semua. Selanjutnya, saya goolgling pertanyaan seputar wawancara kerja. Ada satu blog yang saya buka. Blog tersebut adalah blog yang muncul pertama di laman pencarian. Berisi 30 pertanyaan seputar wawancara. Saya berlatih tanya jawab dengan suami. Beberapa kali.
Setelah itu, sehari sebelum seleksi, saya pergi ke perpustakaan sekolah yang ada di belakang rumah untuk meminjam buku saku Matematika Dasar dan buku paket Bahasa Indonesia. Saya hanya mampu mempelajari Matematika kurang dari satu jam. Otak saya pening melihat rumus dan angka. Akhirnya saya beralih membaca silabus dan buku paket untuk memilih satu materi yang bisa dipakai untuk tes mikroteaching. Saya memilih fabel.
Saya lantas membuat RPP kurtilas, dan memutuskan untuk menggunakan metode Cooerative Script. Di tengah-tengah pembuatan RPP, saya dipusingkan memilih satu fabel yang bagus untuk diceritakan di awal pembelajaran. Sampai sore, RPP belum selesai, dan fabel yang tepat belum ditentukan.
Tetapi akhirnya sebelum berangkat ke Pekanbaru untuk bermalam di rumah saudara, saya bisa menyelesakan RPP tersebut. Fabel dan media belum teratasi.
Di rumah saudara, sebelum tidur saya membaca banyak fabel di internet dan akhirnya menemukan satu fabel yang dirasa tepat. Urusan fabel selesai, tapi urusan media dan cara mengajar belum sama sekali.
Suami akhirnya meminta saya untuk mempraktikan mikro teaching terlebih dulu.
Mikro teaching di depan suami nyatanya tidak mudah. Saya grogi. Dan berulang kali harus mempraktikan cara membuka pembelajaran di kelas. Suami akhirnya menyerah dan mengatakan kepada saya untuk berdoa saja. Saya tidur dalam keadaan tidak tenang. Saya belum membuat media. Perusahaan memang tidak meminta, saya hanya disuruh membawa alat tulis saat seleksi, tapi suami tetap meminta saya menyiapkan diri semaksimal mungkin. L
Subuh saya terbangun. Dan langsung terpikir untuk membuat origami binatang menggunakan kertas berisi fabel. Selepas shalat, saya membuat beberapa origami dengan cara searching terlebih dulu.
Pukul 6 saya tiba di hotel, suami langsung meninggalkan saya karena harus tetap mengajar. Tes pertama dimulai pukul sembilan. Sebelum dimulai, panitia mengingatkan kami bahwa jika diterima kelak, kami harus mau ditempatkan di manapun. Termasuk Sulawesi atau Kalimatan. Panitia juga menjelaskan tahap-tahap seleksi.
Tes tulis, wawancara, mikro teaching, medikal check up, training 3 bulan, baru dinyatakan layak jadi guru Astra atau tidak.
Tes pertama adalah pedagogik. Jawabannya pilihan ganda tetapi harus disertai penjelasan yang sangat rijit tentang alasan jawaban. Sembilan dari sepuluh soal berisi tentang cooperative learning. Satu soal lainnya tentang kurikulum. Semua pertanyaan merupakan ilustrasi. Dan jawaban kita adalah pengandaian jika kita menjadi guru. Untunglah saya sudah mempelajari cl sebelumnya. Jadi tidak begitu kesulitan.
Kesulitan saya adalah pada tes kedua, tes matematika dasar. Dua belas soal logika dan rumus. Empat tahun tidak bertemu matematika. Dan akhirnya dipaksa berpikir kembali. Begitu keras. Tetapi tetap saja hanya mampu menjawab separuhnya. Separuh yang lain saya bermain tebak-tebakan.
Pengumuman ditempel di jendela hotel pukul dua siang. Terdapat 17 nama. Salah satunya nama saya. Kami langsung diminta untuk memasuki ruang wawancara.
Di sana, kami ditanya kembali tentang kesiapan mengajar di luar Sumatra. Saya menjawab siap. Selanjutnya kami dibagi ke dalam tiga grup. Saya masuk grup pertama. Ada dua orang penguji di dalam ruangan tersebut. Kami diminta ke depan satu persatu.
Saya bisa menyaksikan rekan yang lain dipanggil satu persatu. Mereka berasal dari berbagai jurusan. Beberapa rekan yang dipanggil di awal diminta untuk mikro teaching. Selain itu, untuk jurusan PAI mereka ditanya hafalan Al-Qur'an masing-masing dan dites surat An-naba. Jurusan Bahasa Inggris diminta menerjemahkan koran secara langsung. Jurusan PGSD diminta untuk mengajar anak kelas 1 SD membaca.
Saya diapnggil terakhir. Saya sudah sangat siap jika diminta mikro teaching. Ketika saya di depan, saya tidak diminta untuk mengajar, tetapi menyanyikan gurindam. Tidak ada yang saya hafal. Saya lantas menjawab tidak bisa. Lalu saya diminta menyebutkan jenis-jenis pantun lama, saya hanya bisa menyebutkan 3.
Akhirnya saya diminta menjadi seorang reporter. Alhasil blah bloh. Wong saya nyiapin untuk ngajar. ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ Selanjutnya pertanyaan mengarah ke cooperative learning, untunglah saya ditanya tentang metode CIRC. Saya bisa menjawabnya karena metode tersebut adalah variabel penelitian skripsi saya. Terakhir saya ditanya tentang skill lain selain kemampuan akademik.
Saya kembali ke tempat duduk dengan perasaan dongkol. Menyesal tidak hafal gurindam. Haha
Kami kemudian diminta untuk menunggu pengumuman berikutnya. Mohon doanya diberi yang terbaik. Semoga pengalamannya bermanfaat. Aamiin
Langkah pertama yang saya lakukan adalah membaca power point milik suami yang berisi tentang Cooperative Learning. Saya membaca lebih dari 15 jenis cl di SD dan SMP. Ada sedikit bayangan meski tidak bisa saya hafal semua. Selanjutnya, saya goolgling pertanyaan seputar wawancara kerja. Ada satu blog yang saya buka. Blog tersebut adalah blog yang muncul pertama di laman pencarian. Berisi 30 pertanyaan seputar wawancara. Saya berlatih tanya jawab dengan suami. Beberapa kali.
Setelah itu, sehari sebelum seleksi, saya pergi ke perpustakaan sekolah yang ada di belakang rumah untuk meminjam buku saku Matematika Dasar dan buku paket Bahasa Indonesia. Saya hanya mampu mempelajari Matematika kurang dari satu jam. Otak saya pening melihat rumus dan angka. Akhirnya saya beralih membaca silabus dan buku paket untuk memilih satu materi yang bisa dipakai untuk tes mikroteaching. Saya memilih fabel.
Saya lantas membuat RPP kurtilas, dan memutuskan untuk menggunakan metode Cooerative Script. Di tengah-tengah pembuatan RPP, saya dipusingkan memilih satu fabel yang bagus untuk diceritakan di awal pembelajaran. Sampai sore, RPP belum selesai, dan fabel yang tepat belum ditentukan.
Tetapi akhirnya sebelum berangkat ke Pekanbaru untuk bermalam di rumah saudara, saya bisa menyelesakan RPP tersebut. Fabel dan media belum teratasi.
Di rumah saudara, sebelum tidur saya membaca banyak fabel di internet dan akhirnya menemukan satu fabel yang dirasa tepat. Urusan fabel selesai, tapi urusan media dan cara mengajar belum sama sekali.
Suami akhirnya meminta saya untuk mempraktikan mikro teaching terlebih dulu.
Mikro teaching di depan suami nyatanya tidak mudah. Saya grogi. Dan berulang kali harus mempraktikan cara membuka pembelajaran di kelas. Suami akhirnya menyerah dan mengatakan kepada saya untuk berdoa saja. Saya tidur dalam keadaan tidak tenang. Saya belum membuat media. Perusahaan memang tidak meminta, saya hanya disuruh membawa alat tulis saat seleksi, tapi suami tetap meminta saya menyiapkan diri semaksimal mungkin. L
Subuh saya terbangun. Dan langsung terpikir untuk membuat origami binatang menggunakan kertas berisi fabel. Selepas shalat, saya membuat beberapa origami dengan cara searching terlebih dulu.
Pukul 6 saya tiba di hotel, suami langsung meninggalkan saya karena harus tetap mengajar. Tes pertama dimulai pukul sembilan. Sebelum dimulai, panitia mengingatkan kami bahwa jika diterima kelak, kami harus mau ditempatkan di manapun. Termasuk Sulawesi atau Kalimatan. Panitia juga menjelaskan tahap-tahap seleksi.
Tes tulis, wawancara, mikro teaching, medikal check up, training 3 bulan, baru dinyatakan layak jadi guru Astra atau tidak.
Tes pertama adalah pedagogik. Jawabannya pilihan ganda tetapi harus disertai penjelasan yang sangat rijit tentang alasan jawaban. Sembilan dari sepuluh soal berisi tentang cooperative learning. Satu soal lainnya tentang kurikulum. Semua pertanyaan merupakan ilustrasi. Dan jawaban kita adalah pengandaian jika kita menjadi guru. Untunglah saya sudah mempelajari cl sebelumnya. Jadi tidak begitu kesulitan.
Kesulitan saya adalah pada tes kedua, tes matematika dasar. Dua belas soal logika dan rumus. Empat tahun tidak bertemu matematika. Dan akhirnya dipaksa berpikir kembali. Begitu keras. Tetapi tetap saja hanya mampu menjawab separuhnya. Separuh yang lain saya bermain tebak-tebakan.
Pengumuman ditempel di jendela hotel pukul dua siang. Terdapat 17 nama. Salah satunya nama saya. Kami langsung diminta untuk memasuki ruang wawancara.
Di sana, kami ditanya kembali tentang kesiapan mengajar di luar Sumatra. Saya menjawab siap. Selanjutnya kami dibagi ke dalam tiga grup. Saya masuk grup pertama. Ada dua orang penguji di dalam ruangan tersebut. Kami diminta ke depan satu persatu.
Saya bisa menyaksikan rekan yang lain dipanggil satu persatu. Mereka berasal dari berbagai jurusan. Beberapa rekan yang dipanggil di awal diminta untuk mikro teaching. Selain itu, untuk jurusan PAI mereka ditanya hafalan Al-Qur'an masing-masing dan dites surat An-naba. Jurusan Bahasa Inggris diminta menerjemahkan koran secara langsung. Jurusan PGSD diminta untuk mengajar anak kelas 1 SD membaca.
Saya diapnggil terakhir. Saya sudah sangat siap jika diminta mikro teaching. Ketika saya di depan, saya tidak diminta untuk mengajar, tetapi menyanyikan gurindam. Tidak ada yang saya hafal. Saya lantas menjawab tidak bisa. Lalu saya diminta menyebutkan jenis-jenis pantun lama, saya hanya bisa menyebutkan 3.
Akhirnya saya diminta menjadi seorang reporter. Alhasil blah bloh. Wong saya nyiapin untuk ngajar. ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ Selanjutnya pertanyaan mengarah ke cooperative learning, untunglah saya ditanya tentang metode CIRC. Saya bisa menjawabnya karena metode tersebut adalah variabel penelitian skripsi saya. Terakhir saya ditanya tentang skill lain selain kemampuan akademik.
Saya kembali ke tempat duduk dengan perasaan dongkol. Menyesal tidak hafal gurindam. Haha
Kami kemudian diminta untuk menunggu pengumuman berikutnya. Mohon doanya diberi yang terbaik. Semoga pengalamannya bermanfaat. Aamiin
Minggu, 14 Agustus 2016
Menyerahkan Perasaan Kepada Tuhan
Di pengujung Juli tahun ini, aku mencoba kembali menulis.
Tidak lagi tentang masa silam, tapi tentangmu. Sebab Tuhan telah pilihkan kamu.
Barangkali saat ini, bahumu akan menjadi satu-satunya tempat yang aku cari
ketika kelelahan. Dan senyumanmu, dan segala permohonanmu kepada Tuhan
tentangku, adalah dua hal yang akan sangat aku butuhkan.
Hari ini, aku ingin menuliskan cara Tuhan mempertemukan kita.
Agar kelak waktu tak lantas menghilangkan apa-apa yang sempat singgah. Aku
ingin cerita kita bersemayam di sini. Di ingatanku. Juga di ingatanmu.
Dua puluh dua Desember dua ribu empat belas adalah kali
pertama aku melihat wajahmu secara langsung. Beberapa minggu sebelumnya, kamu
menghubungiku melalui pesan singkat. Pesan pertama, kamu mengenalkan diri.
Pesan berikutnya, kamu menyampaikan maksud untuk bertaaruf. Aku langsung
bertanya dari mana kamu mengenalku. Dari teman, katamu.
Aku mengatakan padamu bahwa aku tidak punya niat untuk
menikah dalam waktu dekat. Masih kuliah dan ingin melanjutkan sekolah. Lantas
kamu tetap mengatakan bahwa kamu bisa menunggu. Kamu begitu meyakinkan. Saat
itu kamu memiliki rencana untuk menemuiku jika aku bersedia. Akhirnya aku mencari
tahu data dirimu lebih jauh melalui sosial media terlebih dahulu.
Pernah berkuliah di UPI, jurusan Pendidikan Agama Islam,
lulus tahun 2011, tinggal di Garut dan sedang mengajar di Riau. Informasi
tersebut akhirnya membuat aku berani menceritakan tentangmu pada ibuku. Ibu
bilang, aku tidak boleh bertemu denganmu jika tidak di rumah. Maka aku
memintamu untuk datang ke rumah jika ingin bertemu.
Beberapa minggu setelah pesan pertama itu, kamu datang ke
rumahku selepas magrib dengan pakaian basah karena hujan. Sebelum kamu datang,
aku hanya memberi tahu Bapak bahwa ka nada seseorang yang bertamu.
Di ruang tamu, kamu mengenalkan diri setelah sebelumnya ibuku
terlebih dahulu menyimpan oleh-oleh yang kamu bawa. Ada hal yang mengesankan
saat itu, selama berbincang panjang lebar dengan Bapak, kamu lebih banyak
menundukan pandanganmu. Matamu sayu. Bicaramu begitu santun.
Bapak akhirnya memberikan kesempatan padamu untuk berbicara
denganku. Setelah kita bercerita tentang satu dua hal, akhirnya kita sama-sama
terdiam dan kamu tiba-tiba bertanya. Jadi bagaimana, katamu.
Aku tak lantas mengerti pertanyaanmu. Sebab aku mengira kamu hanya datang untuk
mengenalkan diri secara langsung. Kamu lalu mengutarakan bahwa kamu bersungguh-sungguh
untuk bertaaruf dan meminta jawabanku saat itu juga. Kamu memintaku kembali
memanggilkan orangtuaku, kemudian kamu menyampaikan maksud utamamu ke rumahku
kepada keduanya. Bapak begitu terkejut, pun dengan Ibu. Mereka sama sekali tak
mengira bahwa arah pembicaraanmu seserius itu. Bapak akhirnya meminta waktu
agar aku bisa memikirkannya terlebih dahulu.
Kamu pamit pulang. Meninggalkan sebauah pertanyaan yang
begitu asing.
Saat itu, hal pertama yang aku pikirkan adalah seseorang
yang tengah begitu dekat denganku. Malam itu aku ingin menghubunginya. Ingin
membicarakan banyak hal, tapi dia menolak. Katanya dia sibuk dengan urusan
kuliah. Keesokan harinya bapak memintaku untuk memikirkan pertanyaanmu
matang-matang dan segera mengambil keputusan. Bapak mengatakan, kamu lelaki
baik. Lantas aku menangis di hadapan ibu. Ia bertanya, apa yang membuat aku
ragu menerimamu. Lelaki itu, kataku. Aku terlanjur menyusun harapan baik untuk
bisa bersama lelaki itu kelak. Bagaimana dengannya, apa ia juga mempunyai
harapan yang sama denganmu, ibu bertanya demikian. Entah, aku bilang pada ibu
aku tidak tahu. Lantas Ibu semakin yakin bahwa aku seharusnya tidak memiliki
alasan untuk menolakmu. Sebab menurutnya, hal penting dalam mencari pendamping
hidup adalah memilih seseorang yang bersedia membimbing kita menjadi
seseorang yang lebih taat.
Aku juga meminta pendapat kepada sahabatku. Ia mengatakan
hal yang sama dengan ibu. Ia juga menyuruhku untuk menyerahkan segala urusan
kepada Tuhan. Saat itu, shalat istikharah belum juga membuat aku genap
menentukan pilihan. Aku memberanikan diri menceritakan tentangmu pada
lelaki itu. Kamu tahu jawabannya? Ia mengatakan bahwa semoga kamu adalah
seseorang yang memang Tuhan pilihkan untukku. Begitu kurang lebih. Aku menangis
saat itu. Sebab nyatanya keinginan kita kadang-kadang memang tak sejalan dengan
rencana Tuhan.
Aku menyerahkan keresahanku saat itu kepada Tuhan. Ia yang
telah mengirimkanmu secara tiba-tiba. Maka melalui istikharah aku benar-benar
meminta petunjuk-Nya.
Jjika Engkau mengetahui bahwa perkara ini baik bagiku,
duniaku, akhiratku, dan agamaku, maka takdirkanlah ia untukku, mudahkanlah
untukku, dan berkahilah ia untukku. Jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini
tidak baik untuk agamaku, hidupku di dunia, dan hidupku di akhirat, maka palingkanlah
ia dariku dan palingkanlah aku darinya. Dan jadikanlah aku ridha atas semua
yang telah Engkau takdirkan kepadaku.
Saat itu akhirnya aku memberimu jawaban melalui pesan
singkat dengan perasaan yang masih ganjil. Aku menerimamu. Kamu memanjatkan syukur,
kemudian mengingatkanku tentang tiga hal. Niat, ilmu, dan kesiapan untuk saling memperbaiki diri. Saat itu
kita mesti segera meluruskan niat menikah hanya untuk mencari keridhaan-Nya.
Kita mesti mulai mencari ilmu lebih banyak tentang pernikahan, sebab kita tahu
menjalani peran setelah menikah bukan perkara mudah. Kita juga mesti segera
memperbaiki diri agar lekas pantas di hadapan Tuhan ketika dipersatukan.
Beberapa hari setelah aku memberikan jawaban, kamu kembali
ke rumah untuk membicarakan rencana berikutnya. Kamu datang ke rumah dengan
kembali membawa makanan dan sebuah novel. Saat itu kamu sudah mengetahui bahwa
aku begitu tertarik pada literasi.
Di ruang tamu, kita akhirnya memutuskan untuk melaksanakan
khitbah pada bulan Juni 2015. Kita juga membuat beberapa kesepakatan yang kita
tulis di sebuah kertas. Tidak menghubungi jika tidak ada hal penting dan
mendesak. Tidak bertemu tanpa ditemani makhrom. Membaca minimal tiga referensi
buku tentang pernikahan. Menghadiri pengajian minimal satu kali dalam seminggu.
Menghadiri seminar-seminar pernikahan. Dan menikah setelah sidang atau wisuda.
Adalah sulit, menunggu bulan Juni dengan harus menjalani
kesepakatan yang telah kita buat. Aku sering merasa bahwa Tuhan begitu giat
memberi ujian. Perasaan ragu, datangnya lelaki lain, keinginan untuk
melanjutkan sekolah lagi, dan ujian lainnya yang pada akhirnya hanya membuat
aku semakin lalai memantaskan diri.
Beberapa kali aku meminta Ibu dan sahabat-sahabatku utuk
meyakinkan aku bahwa semuanya harus aku teruskan. Sampai akhirnya kita bertemu
kembali pada bulan Juni dua ribu lima belas. Ada yang tidak baik-baik
saja. Aku memang tidak menyesali acara khitbah itu, tidak juga merasa
sedih. Hanya saja seharusnya saat itu aku merasa sangat bahagia, tapi aku tidak
mampu merasakan apa-apa.
Akhirnya aku memasrahkan perasaanku kepada Tuhan.
Berkali-kali aku meyakinkan diri bahwa Tuhan telah mengatur semuanya. Ia lebih
mengetahui apa-apa yang baik untuk makhluk-Nya.
Selepas khitbah, kita akhirnya memulai penantian selama satu
tahun menuju pernikahan. Beberapa kesepakatan bisa aku jalani dengan mudah,
tapi beberapa yang lain begitu sulit. Jika aku melakukan kontak dengan lelaki
lain tanpa ada hal mendesak, perasaan bersalah akan muncul dan begitu
mengganggu. Perasaan ragu pun semakin lama semakin akut. Akhirnya aku
mengalihkan keraguan itu dengan terus mendatangi seminar-seminar pernikahan
yang bisa meyakinkan hatiku bahwa kamu adalah lelaki terbaik yang Tuhan
pilihkan. Membaca banyak buku yang akhirnya menyadarkanku bahwa kehidupan bukan
hanya persoalan mengurus perasaan, melainkan perjalanan untuk menghilangkan
jarak dengan Tuhan.
Selama satu tahun penantian, kamu jarang
menghubungiku, pun sebaliknya. Sesekali kamu hanya menelepon orang tuaku untuk
bertanya kabar. Selebihnya aku yakin kau tengah sibuk memperbaiki diri,
sedangkan aku hanya sibuk memohon kepada Tuhan agar aku mampu menata hati
dengan baik.
Semakin mendekati hari pernikahan, perasaanku belum juga
berubah. Perasaan yang semestinya mulai ada, belum juga aku rasakan. Akhirnya
aku terus mencari banyak hal yang bisa meyakinkanku agar tidak mengundurkan
diri dari kesepakatan yang terlanjur kita buat.
Dari Abu Hurairah r.a. “Sesungguhnya Allah Swt. pada
hari kiamat berfirman: Di manakah orang-orang yang saling mencintai demi
keagungan-Ku? Pada hari ini Aku akan menaungi mereka di bawah naungan-Ku pada
hari ketika tidak ada naungan kecuali naungan-Ku.” (HR. Muslim)
Hadits-hadits tentang cinta yang aku temukan pada akhirnya
membuat aku yakin untuk menyempurnakan separuh agamaku dan memperbaiki cintaku
kepada Tuhan dengan cara menikah denganmu.
Dua ribu enam belas. Undangan, dekorasi, ketring, dan semua
hal yang mesti disiapkan untuk pernikahan lebih banyak diurus oleh ibu dan bapak, sebab aku begitu sibuk mengurus skripsi dan kekhawatiran.
Pada awal Juni, skripsiku akhirnya selesai. Aku mendapat tanda tangan dua dosen pembimbing dengan mudah. Sehingga dua puluh dua Juni aku bisa mengikuti sidang dan kemudian dinyatakan lulus.
Tiga belas Juli. Hari pernikahan itu tiba. Aku menikah denganmu, seseorang
yang hanya aku temui beberapa kali. Satu-satunya lelaki yang berani menemui
keluargaku secara langsung, mendekatiku dengan cara meminta kepada Tuhan
terlebih dahulu, menjagaku dengan penjagaan terbaik melalui doa-doa yang kamu panjatkan. Lelaki
yang akhirnya membuat aku yakin bahwa cinta yang semestinya kita perjuangkan
adalah cinta kita kepada Tuhan dan cinta Tuhan kepada kita.
Sekarang, setelah menikah denganmu aku tidak harus lagi
menyusun halaman-halaman skripsi, aku mulai menyusun perasaan demi perasaan
yang entah apa namanya. Setelah setahun lebih bergelut dengan rasa ragu, pada
akhirnya Tuhan tetap menginginkan aku menetap sebagai perempuanmu.
Semoga sekarang mataku adalah sebaik-baik tempat ketika kamu
pulang.
Riau, 2016
Senin, 07 Desember 2015
Membakar Penyamun
MEMBAKAR PENYAMUN*
Cerpen Resna J Nurkirana**
Sepasang
matanya tengah disaput kekosongan. Sekarang Bapak nampak asing dan menyedihkan.
Semenjak
peristiwa itu sering diberitakan, aku terus mencari kebenaran. Mencari jawaban
atas kesedihan yang Bapak rahasiakan. Barangkali, kesedihan Bapak datang dari tuduhan
orang-orang. Katanya Bapaklah yang menyebabkan kematian seorang begal.
Sekarang
Bapak jadi lebih sering murung dan memilih mengurung dirinya di kamar. Kesedihan Bapak atas kepergian Ibu belum selesai, tapi peristiwa ini, jelas telah membuat Bapak
semakin terguncang. Begitu hebat upaya
Bapak mempersiapkan diri menghadapi kematian Ibu, sementara untuk
tuduhan-tuduhan ini, ia sama sekali tak pernah menduga dan tak mempersiapkan apa-apa. Maka
Bapak seolah ditimpa kesedihan yang lebih mengerikan. Bapak jadi sulit kuajak
bicara. Ia semakin sering
bersembunyi dan menatap jauh ke langit-langit
Luka yang Bapak sembunyikan
dalam kantung matanya, aku yakin hanya kekecewaannya pada keadaan. Aku mencoba
bersikap wajar, tapi pembicaraan orang-orang tentang Bapak tak juga berakhir.
Maka sembunyi-sembunyi, aku mengikuti kemana pun desas-desus itu berembus.
Mencari setiap cerita tentang seorang begal yang mati, juga seseorang yang
telah membakarnya.
Aku mencari keterangan dari
cahaya yang masuk lewat atap rumah, mencari kebenaran dari angin yang membisik
melalui celah jendela, dari suara-suara
yang selalu membawaku kembali
menghadapi kesedihan bapak, juga dari kabut, yang akhir-akhir ini sering
menyelimuti kampungku ketika malam semakin larut.
Sejak kesedihan
Bapak, sore hari hujan selalu turun dan tak membiarkan anak-anak
bermain petak umpet atau pun egrang. Suara tawa dan tangis mereka jadi jarang terdengar, begitu pula
suara gaduh para peronda. Kampungku mendadak senyap.
Tapi sepertinya orang-orang masih terus saling berbisik dan menuduh.
Bukan di sini. Melainkan di ruang lain, jauh di dalam kepala mereka. Di sebuah
ruang kedap suara.
Kesunyian di kampung ini justru
menjelma jadi suara-suara paling bergemuruh dalam kepalaku. Begal itu
ditangkap. Diarak orang banyak. Sambil diseret, orang-orang terus memukulinya.
Mereka memotong jari tangan
begal itu agar dengan begitu, ia
tak bisa lagi memasukan apa-apa yang ada di dunia ini ke dalam
mulutnya. Begal itu berteriak-teriak memohon ampun, tapi amarah orang-orang tak
juga mereda.
Penyiksaan itu tak juga
berhenti. Orang-orang merentangkan tangan begal itu dan hendak memotongnya.
Tapi Bapak tiba-tiba masuk ke dalam kerumunan. Bapak menyiramkan bensin lalu
melemparkan korek api yang karenanya tubuh begal itu terbakar, hangus dan mengenaskan.
Begitulah gemuruh itu
menyampaikan cerita yang sesungguhnya padaku.
Hari
ini aku mendengar mayat begal itu akan dipulangkan dari rumah sakit ke rumah
duka. Maka aku tak berpikir lama. Aku bergegas untuk melihatnya. Tiba di sana,
orang-orang telah berkerumun dan berdesakan. Barangkali mereka ingin mendapat
posisi paling baik untuk melihat mayat seorang begal yang dibakar.
Aku
mendesak masuk. Tiba di dalam rumah, aku dikagetkan dengan anak kecil yang
tengah menjerit-jerit memanggil bapaknya. Ketika aku duduk dan menundukkan
wajahku untuk berdoa, anak itu menangis lebih keras, meronta meminta pada orang-orang
agar bisa membangunkan bapaknya. Aku menahan sesak luar biasa. Anak itu
tiba-tiba membuka kain yang menutupi wajah bapaknya. Sebuah wajah yang kemudian
membuat orang-orang mengernyit dan memalingkan muka.
Dari
orang-orang yang saling membisik, aku mendengar anak itu telah lama ditinggal
mati oleh ibunya. Aku tak bisa bayangkan jika anak ini harus tetap menjalani
kehidupan dengan sebagian miliknya yang telah hilang, bahkan hampir seluruhnya.
Jeritan anak itu tak urung reda. Malah kini betul-betul membuat aku terpukul.
Aku sekarang mengerti ketakutan macam apa yang telah Bapak sembunyikan di balik
kantung matanya. Di sini, Bapak nyatanya telah menciptakan sebuah kehidupan
yang begitu mengerikan, kesedihan seorang anak penyamun, yang hanya dengan
kematian ia akan hilang.
Aku langsung
berpikir untuk melakukan apa yang Bapak lakukan. Akan kutumpahkan bensin pada
sekujur tubuh anak itu. Disusul dengan korek api yang akan menyulut habis rasa
sakitnya. Nanti, aku hanya akan melihat kesedihan anak itu semakin lama semakin
menguap.
Bapak
pasti lega mendengar apa yang akan aku lakukan. Lalu setelahnya, aku akan
memiliki mata serupa Bapak; disaput kekosongan, asing dan menyedihkan.
Februari
2015
*Begal Orang yang menyamun, Merampok, merampas
dimuat di harian Pikiran Rakyat 22 November 2015
Sabtu, 30 Mei 2015
Meski dimuat...
Wan,
dimuatnya wisata bahasa dalam pikiran rakyat sama sekali bukan sebuah penemuan jati diri.
hanya sedikit keanehan, serupa judul tulisannya yang memang diganti oleh editor koran.
wan, semester enam fase paling menyenangkan. di mana aku telah memilih jurnalistik sebagai konsentrasi perkuliahan. di dalamnya, seorang dosen mengajarkan kami beribu cara agar tulisan kami bisa dimuat di koran. kami juga diminta untuk mengirimkan satu opini setiap minggunya. dan nilai kami bisa a hanya jika tulisan kami ada yang lolos kurasi redaktur koran. dari itu, aku terpaksa menulis beberapa opini dan banyak wisata bahasa. hanya untuk dimuat.
saat akhir april, aku mencoba menulis hal yang paling aktual. maka aku menulis hardiknas. aku tak tahu harus menulis apa, sampai akhirnya aku teringat mata kuliah problematik yang diampu oleh pak mahmud. beliau sempat memahas materi terkait problematik dalam abreviasi. dan akronim hardiknas termasuk di dalamnya. mulailah aku menulis dan membuka lagi buku kuliah semester lima. aku kirim ke koran, dan pada saat hardiknas aku tak menemukan tulisanku di sana. putuslah asaku wan. hardiknas ini momentum dan tidak mungkin dimuat di hari lain.
akhirnya aku kembali menulis opini berjdul hedging jokowi, menulis wisata bahasa lagi berjudul "acan dan teu acan" lalu kembali berharap semoga sebelum uas salah satu tulisanku ada yang dimuat. lalu Allah begitu baik padaku, hari minggu pagi 24 mei 2015,saat kepalaku dipenuhi dengan bisnis kerudung, seseorang tiba-tiba mengirimkan foto koran, tepat pada kolom wisata bahasa yang di sana tertulis namaku wan. bahagialah aku. karena esoknya adalah batas akhir pengumpulan opini dan dosen akan mempertimbangkan nilai kami. maka dengan rasa syukur yang begitu besar, aku pun sedikit merasa lega untuk mata kuliah bernama "opini dan editorial" ini.
lalu aku tertegun ketika kamu berkomentar bahwa aku telah menemukan jalanku. tidak wan. aku tetap berharap ada cerpenku yang dimuat. maka wan, doakan aku. plis.
dan terima kasih atas foto-foto ini. karena kebahagiaan adalah mengenal kalian semua. semoga Allah membalas kebaikan dengan kebahagiaan yang berkali-kali lipat.

dimuatnya wisata bahasa dalam pikiran rakyat sama sekali bukan sebuah penemuan jati diri.
hanya sedikit keanehan, serupa judul tulisannya yang memang diganti oleh editor koran.
wan, semester enam fase paling menyenangkan. di mana aku telah memilih jurnalistik sebagai konsentrasi perkuliahan. di dalamnya, seorang dosen mengajarkan kami beribu cara agar tulisan kami bisa dimuat di koran. kami juga diminta untuk mengirimkan satu opini setiap minggunya. dan nilai kami bisa a hanya jika tulisan kami ada yang lolos kurasi redaktur koran. dari itu, aku terpaksa menulis beberapa opini dan banyak wisata bahasa. hanya untuk dimuat.
saat akhir april, aku mencoba menulis hal yang paling aktual. maka aku menulis hardiknas. aku tak tahu harus menulis apa, sampai akhirnya aku teringat mata kuliah problematik yang diampu oleh pak mahmud. beliau sempat memahas materi terkait problematik dalam abreviasi. dan akronim hardiknas termasuk di dalamnya. mulailah aku menulis dan membuka lagi buku kuliah semester lima. aku kirim ke koran, dan pada saat hardiknas aku tak menemukan tulisanku di sana. putuslah asaku wan. hardiknas ini momentum dan tidak mungkin dimuat di hari lain.
akhirnya aku kembali menulis opini berjdul hedging jokowi, menulis wisata bahasa lagi berjudul "acan dan teu acan" lalu kembali berharap semoga sebelum uas salah satu tulisanku ada yang dimuat. lalu Allah begitu baik padaku, hari minggu pagi 24 mei 2015,saat kepalaku dipenuhi dengan bisnis kerudung, seseorang tiba-tiba mengirimkan foto koran, tepat pada kolom wisata bahasa yang di sana tertulis namaku wan. bahagialah aku. karena esoknya adalah batas akhir pengumpulan opini dan dosen akan mempertimbangkan nilai kami. maka dengan rasa syukur yang begitu besar, aku pun sedikit merasa lega untuk mata kuliah bernama "opini dan editorial" ini.
lalu aku tertegun ketika kamu berkomentar bahwa aku telah menemukan jalanku. tidak wan. aku tetap berharap ada cerpenku yang dimuat. maka wan, doakan aku. plis.
dan terima kasih atas foto-foto ini. karena kebahagiaan adalah mengenal kalian semua. semoga Allah membalas kebaikan dengan kebahagiaan yang berkali-kali lipat.

Senin, 27 April 2015
Warna Ibu
Bu, kenangan denganmu tak akan berubah warna. Tentang siang dengan langit mendung sepanjang perjalanan. Tentang kaki kita yang jauh menyusuri trotoar. Tentang tanganmu yang begitu sulit mengambil potretku. Tentang bajumu yang tak sengaja kutumpahi makanan. Tentang pancake yang kaubelikan untukku. Aku mencintai kenangan kita yang tak akan berubah warna, Bu. Aku mencintaimu.
art emotikon
art emotikon
Jumat, 24 April 2015
LIST ESAI ASAS
Ini esai Reboan yang berhasil saya arsipkan selama bergiat di ASAS. Bagi teman-teman yang tertarik membaca salah satu atau beberapa esainya, mangga hubungi saya. Nanti saya buat salinannya. smile emotikon
1. Alusi dalam puisi-puisi Cecep Syamsul Hari (Fajar M Fitrah)
2. Ketimpangan gender dalam novel "Entrok" (Dedi Sahara)
3. Dalam lipatan kain, tubuh menjadi representasi simbolik manusia (Zulfa Nasrulloh)
4. Bali, tempat melihat Putu Telanjang (Resna J Nurkirana)
5. Membaca Sesuatu "Dalam Lipatan Kain" (R Abdul Azis)
6. Memahami cerpen, lukisan, dan buku pelajaran (Resna J Nurkirana)
7. Sedikit pengantar menyoal apresiasi sastra (Fuad Jouharudin)
8. Serangkum Sejarah Singkat (R Abdul Azis)
9. Esai dan hal-hal yang tak selesai (Dedi Sahara)
10. Menerawang kumpulan puisi Lambung Padi Karya Heri Maja Kelana (Wishu Muhamad)
11.Puisi, Pengalaman, dan Gumam (Ahda Imran)
12. Rolling Stones, sebuah pembacaan sajak-sajak penyair ASBE 2013 (Willy E. Cahyadi dan Tono Viono)
13. Esai Pengantar Seputar Esai (Roby Aji)
14. Sastra; dari syair Bimbo hingga Epik Luo Guanzhong (Tono Viono)
15. Perkembangan kelmpok teater kontemporer Indonesia (Yopi Setia Umbara)
16.Memandang Ilmu dan Secuil Persoalan Bahasa Indonesia (Sany R Apriad)
17. Al-barzanji: Puji-pujian Menuju Tuhan (Mustafa Reza Raihan Sind)
18. Di tubuh erotis, membaca Bugis: Puisi-puisi Aslan Abidin "Bahaya Laten Malam Pengantin" (Willy Fahmy Agiska)
19. Menyembunyikan Hasrat ala Kakek Charlie (Muhammad Maruf)
20. Membaca puisi-puisi asal Sumatra Barat: Sebuah Wacana Lokalitas (Fajar M Fitrah)
21. Mengulik Bentuk Puisi Aan Mansyur "Mengalimatkan dan Mengalamatkan" (R. Abdul Azis)
22. Tanda-Tanda Bimbang Bahasa (Faisal Syahreza)
23. Berawal dari Kata, Budi Darma Jungkir Balik lagi (Zulfa Nasrullah)
24. 4 puisi 4 penyair ASAS (R. Abdul Azis)
25. Absurditas Camus: Interpretasi pada "Orang Asing" (Dedi Sahara)
26. Mekanisme pertahanan dan emosi dalam cerpen "penembak misterius" dan "sarman" karya Seno Gumira Ajidarma (Muhammad Ma'ruf)
28. Memikirkan Perasaan: Sebuah proses dan apresiasi (R. Abdul Azis)
29. The other side dari novel Pulang dan Tragedi (Muhammad Maruf)
30. Polemik Sastra Sufistik, Profetik, dan Relijius (Resna J Nurkirana)
31. Menyingkap Puisi: Menarikan bahasa, membebaskan imajinasi (Faisal Syahreza)
32. Estetika Skizofernia: Kemungkinan dan Ketidakmungkinan Membaca "Museum Penghancur Dokumen" (Dedi Sahara)
2. Ketimpangan gender dalam novel "Entrok" (Dedi Sahara)
3. Dalam lipatan kain, tubuh menjadi representasi simbolik manusia (Zulfa Nasrulloh)
4. Bali, tempat melihat Putu Telanjang (Resna J Nurkirana)
5. Membaca Sesuatu "Dalam Lipatan Kain" (R Abdul Azis)
6. Memahami cerpen, lukisan, dan buku pelajaran (Resna J Nurkirana)
7. Sedikit pengantar menyoal apresiasi sastra (Fuad Jouharudin)
8. Serangkum Sejarah Singkat (R Abdul Azis)
9. Esai dan hal-hal yang tak selesai (Dedi Sahara)
10. Menerawang kumpulan puisi Lambung Padi Karya Heri Maja Kelana (Wishu Muhamad)
11.Puisi, Pengalaman, dan Gumam (Ahda Imran)
12. Rolling Stones, sebuah pembacaan sajak-sajak penyair ASBE 2013 (Willy E. Cahyadi dan Tono Viono)
13. Esai Pengantar Seputar Esai (Roby Aji)
14. Sastra; dari syair Bimbo hingga Epik Luo Guanzhong (Tono Viono)
15. Perkembangan kelmpok teater kontemporer Indonesia (Yopi Setia Umbara)
16.Memandang Ilmu dan Secuil Persoalan Bahasa Indonesia (Sany R Apriad)
17. Al-barzanji: Puji-pujian Menuju Tuhan (Mustafa Reza Raihan Sind)
18. Di tubuh erotis, membaca Bugis: Puisi-puisi Aslan Abidin "Bahaya Laten Malam Pengantin" (Willy Fahmy Agiska)
19. Menyembunyikan Hasrat ala Kakek Charlie (Muhammad Maruf)
20. Membaca puisi-puisi asal Sumatra Barat: Sebuah Wacana Lokalitas (Fajar M Fitrah)
21. Mengulik Bentuk Puisi Aan Mansyur "Mengalimatkan dan Mengalamatkan" (R. Abdul Azis)
22. Tanda-Tanda Bimbang Bahasa (Faisal Syahreza)
23. Berawal dari Kata, Budi Darma Jungkir Balik lagi (Zulfa Nasrullah)
24. 4 puisi 4 penyair ASAS (R. Abdul Azis)
25. Absurditas Camus: Interpretasi pada "Orang Asing" (Dedi Sahara)
26. Mekanisme pertahanan dan emosi dalam cerpen "penembak misterius" dan "sarman" karya Seno Gumira Ajidarma (Muhammad Ma'ruf)
28. Memikirkan Perasaan: Sebuah proses dan apresiasi (R. Abdul Azis)
29. The other side dari novel Pulang dan Tragedi (Muhammad Maruf)
30. Polemik Sastra Sufistik, Profetik, dan Relijius (Resna J Nurkirana)
31. Menyingkap Puisi: Menarikan bahasa, membebaskan imajinasi (Faisal Syahreza)
32. Estetika Skizofernia: Kemungkinan dan Ketidakmungkinan Membaca "Museum Penghancur Dokumen" (Dedi Sahara)
33. Kesepakatan Mengalmarhumkan Hendrawan (M Adhimas Prasetyo)
Bagi para penulis esai reboan yang namanya ada di sini atau tidak, sila mengirimkan softfilenya ke email saya y. Nanti Insyaallah akan diposting di blog atau di group ASAS. Resnaje@gmail.com
puisi pasir
di pesisir sawarna,
orang-orang memintaku menulis hal paling dekat dan sederhana,
pasir misalnya.
tapi aku menulis masa lalu dan dirimu.
orang-orang memintaku menulis hal paling dekat dan sederhana,
pasir misalnya.
tapi aku menulis masa lalu dan dirimu.
april 2015
Langganan:
Postingan (Atom)











