Puisi Resna J Nurkirana
Subuh adalah malam yang beranjak pulang
seperti tatapanmu yang perlahan padam
air mukamu yang kini surut
dan senyumanmu yang semakin susut
Siang adalah pagi yang menjauh
seperti aku yang meranggas dari ingatanmu
yang tak lagi mampu menghadirkan rindu di ubun-ubunmu
Sore adalah senja yang tenggelam menyambut malam
dan malam adalah aku yang kelelahan
mencari sesuatu yang hilang di wajahmu
Februari 2014
Minggu, 23 Maret 2014
Sabtu, 15 Maret 2014
"KEJENUHAN SAYA MEMBACA SAIA"
Esai Resna J Nurkirana
Saia merupakan kumpulan cerpen terbaru Djenar Maesa Ayu yang terbit pada bulan Januari 2014. Sebelum Saia, Djenar telah menerbitkan beberapa kumpulan cerpen lain diantaranya Mereka Bilang Saya Monyet, Jangan Main-main dengan Kelaminmu, Nayla, Cerita Pendek Tentang Cerita Cinta Pendek, 1 Perempuan 14 Laki-laki, dan T(w)itit. Tulisan-tulisan Djenar memang lebih sering berbicara mengenai perempuan, seks, dan hal semacamnya. Namun dalam esai ini, saya tidak akan berbicara mengenai feminisme ataupun pornografi, melainkan bunyi, irama dan rasa jenuh.
"Ketika Dan pertama kali bisa mengingat, itulah awal ia mengenal Lalu. Saat itu Lalu adalah orang yang sangat lugu. Dan ingat betul hari pertama Lalu pergi ke sekolah. Rambutnya yang di kucir kuda berpita merah. Tangannya digandeng oleh pembantu. Sementara anak-anak lain datang diantar Ibu. Gerak tubuhnya kaku. Sorot matanya ragu. Lalu seolah tenggelam di dalam lautan orang tua, murid, dan guru." (Kutipan cerpen DAN LALU-Djenar Maesa Ayu)
Kutipan di atas adalah salah satu paragraf yang begitu memperhatikan bunyi. Penulis begitu teliti ketika memilih diksi-diksi yang dipakai dalam mengungkapkan sebuah alur. Tapi bisa dibayangkan, ketelitian penulis mengenai bunyi tersebut, kita dapatkan pada setiap paragraf, pada setiap cerpen.
Bunyi begitu identik dengan puisi. Namun sebenarnya, bunyi bisa berlaku pada bentuk karya sastra lainnya semisal prosa. Pengertian bunyi itu sendiri menurut Pradopo dalam bukunya Pengkajian Puisi (22: 2012) ialah unsur puisi untuk menciptakan keindahan dan tenaga ekspresif. Menurutnya, bunyi di samping hiasan dalam puisi, juga mempunyai tugas yang lebih penting lagi, yaitu untuk memperdalam ucapan, menimbulkan rasa, menimbulkan bayangan angan yang jelas, menimbulkan suasana yang khusus, dan sebagainya.
Dalam cerpen saya berjudul Alegori Hujan, saya mencoba memainkan bunyi pada diksi-diksi yang berada di akhir kalimat pada beberapa paragraf. Namun untuk beberapa pembaca, mereka justru merasa terganggu dengan usaha saya untuk membuat tulisan lebih terasa liris tersebut.
Ia menyandarkan punggungnya di tiang lampu jalan yang berkarat, di bawah cahaya yang hampir sekarat. (Kutipan cerpen Alegori Hujan-Resna J Nurkirana)
Jika berbicara mengenai pembaca yang merasa terganggu dengan adanya permainan bunyi, maka akan sangat bersifat subjektif. Beberapa pembaca bisa jadi tidak mempermasalahkan dominasi bunyi tersebut, beberapa menyukai atau sebaliknya. Namun pada pembahasan ini, saya akan menunjukkan betapa sesuatu yang berlebihan bisa membuat kita jenuh dan bosan.
Pada dasarnya, tulisan yang disebut memiliki unsur bunyi tidak selalu harus memiliki awalan atau akhiran yang sama. Bunyi itu sendiri dibagi menjadi dua, eufoni dan kakofoni. Merdu dan tidak merdu. Begitulah bunyi. Sehingga jika kita menemukan sebuah tulisan yang tidak berakhiran sama pada suku kata terakhirnya, tulisan tersebut tetap dikatakan memiliki bunyi, yaitu bunyi yang tidak beraturan atau kakofoni.
Jika memanga bunyi tersebut terdengar sama dan teratur, maka kita masuk dalam pembahasan irama. Pradopo mengartikan irama merupakan bunyi yang berulang, pergantian yang teratur, dan variasi bunyi yang hidup. Jika kita melihat kembali kutipan cerpen Dan Lalu karya Djenar di atas, maka dapat disimpulkan bahwa Djenar memasukan bunyi yang berirama dalam tulisannya. Akhiran vokal dan konsonan di setiap akhir kalimat selalu sama. Berikut kutipan paragraf berirama lainnya dalam buku Saia.
Nayla terpogoh-pogoh sepanjang koridor. Dipacunya kembali semangat yang sempat kendor. Ia sadari jika pertemuan kali ini sedetik pun tak boleh molor. Demikian yang tempo hari berkali-kali diingatkan bosnya karena klien mereka adalah seorang pesohor. (Kutipan cerpen Nol Dream Land- Djenar Maesa Ayu)
Kafe yang menghadap persis ke pantai itu terlihat masih sepi. Hanya ada dua meja yang sudah terisi. Tapi Nayla sama sekali tak peduli. Matanya bersemi. Bibirnya berseri. Hatinya merasa pasti. Akan datang yang ia nanti. (Kutipan cerpen Sementara-Djenar Maesa Ayu)
Ibu Pram mendengarkan semuanya dari luar dengan hati meradang. Ia menyesal telah pulang. (Kutipan cerpen Kulihat Awan-Djenar Maesa Ayu)
Di atas adalah tiga dari enam belas cerpen Djenar dalam buku Saia. Bisa dibayangkan ketika membaca enam belas cerpen dengan bunyi berirama di setiap paragrafnya. Hakikat bunyi yang tadinya sebagai hiasan, djenar perlakukan seolah bunyi adalah kewajiban. Jika memang tujuan Djenar adalah untuk mengedepankan estetika bahasa, justru usahanya malah menghilangkan keindahan bahasa itu sendiri. Jelas sekali bahwa Djenar memaksakan diksi-diksinya agar berirama sama. Hal itu terlihat dari diksi atau ungkapan yang sebetulnya bisa diganti dengan diksi yang memiliki makna lebih tepat. Seperti kalimat karena klien mereka adalah seorang pesohor. Maksud Djenar mengungkapkan bahwa tokoh klien adalah seorang pesohor, tidak memiliki penjelasan apa pun sebelum atau setelahnya. Djenar seolah larut dalam euforia bunyi bahasa yang ia ciptakan. Kalaupun memang makna setiap diksi yang berirama tersebut sangat mendukung maksud cerita, Djenar seharusnya memperhatikan pula kejenuhan yang akan dialami pembaca.
Saya teringat cerpen Avianti Armand yang juga di dalamnya terdapat permainan bunyi. Dan saya begitu larut di dalamnya.
Di atas Nunnuies, matahari berkedip-kedip ketika segerombolan besar camar terbang melintasinya. Mereka menjerit-jerit seperti anak lapar, sambil mengepak-ngepakkan sayap ke tubuh. Begitu riuh. Tapi penduduk kota kecil di tepian Gibraltar itu tak sempat memperhatikan camar-camar di langit. Mata mereka terpaku ke satu titik di kakinya. (Kutipan cerpen Dongeng dari Gibraltar- Avianti Armand.)
Dalam kutipan di atas, Avianti terlihat memainkan bunyi. Avianti berhasil menjadikan bunyi sebagai unsur estetik yang mampu menciptakan suasana dan menimbulkan imaji yang jelas. Jika kita mengamini pendapat Pradopo yang menyatakan bahwa bunyi adalah hiasan dalam sebuah karya sastra, maka sudah selayaknya kita tidak memakainya secara berlebihan.
Pada akhirnya, permasalahan bunyi ini barangkali dikembalikan kepada selera pembaca. Hanya saja, tulisan Djenar akan lebih sempurna jika unsur bunyi tidak mendominasi.
Maret 2014
Saia merupakan kumpulan cerpen terbaru Djenar Maesa Ayu yang terbit pada bulan Januari 2014. Sebelum Saia, Djenar telah menerbitkan beberapa kumpulan cerpen lain diantaranya Mereka Bilang Saya Monyet, Jangan Main-main dengan Kelaminmu, Nayla, Cerita Pendek Tentang Cerita Cinta Pendek, 1 Perempuan 14 Laki-laki, dan T(w)itit. Tulisan-tulisan Djenar memang lebih sering berbicara mengenai perempuan, seks, dan hal semacamnya. Namun dalam esai ini, saya tidak akan berbicara mengenai feminisme ataupun pornografi, melainkan bunyi, irama dan rasa jenuh.
"Ketika Dan pertama kali bisa mengingat, itulah awal ia mengenal Lalu. Saat itu Lalu adalah orang yang sangat lugu. Dan ingat betul hari pertama Lalu pergi ke sekolah. Rambutnya yang di kucir kuda berpita merah. Tangannya digandeng oleh pembantu. Sementara anak-anak lain datang diantar Ibu. Gerak tubuhnya kaku. Sorot matanya ragu. Lalu seolah tenggelam di dalam lautan orang tua, murid, dan guru." (Kutipan cerpen DAN LALU-Djenar Maesa Ayu)
Kutipan di atas adalah salah satu paragraf yang begitu memperhatikan bunyi. Penulis begitu teliti ketika memilih diksi-diksi yang dipakai dalam mengungkapkan sebuah alur. Tapi bisa dibayangkan, ketelitian penulis mengenai bunyi tersebut, kita dapatkan pada setiap paragraf, pada setiap cerpen.
Bunyi begitu identik dengan puisi. Namun sebenarnya, bunyi bisa berlaku pada bentuk karya sastra lainnya semisal prosa. Pengertian bunyi itu sendiri menurut Pradopo dalam bukunya Pengkajian Puisi (22: 2012) ialah unsur puisi untuk menciptakan keindahan dan tenaga ekspresif. Menurutnya, bunyi di samping hiasan dalam puisi, juga mempunyai tugas yang lebih penting lagi, yaitu untuk memperdalam ucapan, menimbulkan rasa, menimbulkan bayangan angan yang jelas, menimbulkan suasana yang khusus, dan sebagainya.
Dalam cerpen saya berjudul Alegori Hujan, saya mencoba memainkan bunyi pada diksi-diksi yang berada di akhir kalimat pada beberapa paragraf. Namun untuk beberapa pembaca, mereka justru merasa terganggu dengan usaha saya untuk membuat tulisan lebih terasa liris tersebut.
Ia menyandarkan punggungnya di tiang lampu jalan yang berkarat, di bawah cahaya yang hampir sekarat. (Kutipan cerpen Alegori Hujan-Resna J Nurkirana)
Jika berbicara mengenai pembaca yang merasa terganggu dengan adanya permainan bunyi, maka akan sangat bersifat subjektif. Beberapa pembaca bisa jadi tidak mempermasalahkan dominasi bunyi tersebut, beberapa menyukai atau sebaliknya. Namun pada pembahasan ini, saya akan menunjukkan betapa sesuatu yang berlebihan bisa membuat kita jenuh dan bosan.
Pada dasarnya, tulisan yang disebut memiliki unsur bunyi tidak selalu harus memiliki awalan atau akhiran yang sama. Bunyi itu sendiri dibagi menjadi dua, eufoni dan kakofoni. Merdu dan tidak merdu. Begitulah bunyi. Sehingga jika kita menemukan sebuah tulisan yang tidak berakhiran sama pada suku kata terakhirnya, tulisan tersebut tetap dikatakan memiliki bunyi, yaitu bunyi yang tidak beraturan atau kakofoni.
Jika memanga bunyi tersebut terdengar sama dan teratur, maka kita masuk dalam pembahasan irama. Pradopo mengartikan irama merupakan bunyi yang berulang, pergantian yang teratur, dan variasi bunyi yang hidup. Jika kita melihat kembali kutipan cerpen Dan Lalu karya Djenar di atas, maka dapat disimpulkan bahwa Djenar memasukan bunyi yang berirama dalam tulisannya. Akhiran vokal dan konsonan di setiap akhir kalimat selalu sama. Berikut kutipan paragraf berirama lainnya dalam buku Saia.
Nayla terpogoh-pogoh sepanjang koridor. Dipacunya kembali semangat yang sempat kendor. Ia sadari jika pertemuan kali ini sedetik pun tak boleh molor. Demikian yang tempo hari berkali-kali diingatkan bosnya karena klien mereka adalah seorang pesohor. (Kutipan cerpen Nol Dream Land- Djenar Maesa Ayu)
Kafe yang menghadap persis ke pantai itu terlihat masih sepi. Hanya ada dua meja yang sudah terisi. Tapi Nayla sama sekali tak peduli. Matanya bersemi. Bibirnya berseri. Hatinya merasa pasti. Akan datang yang ia nanti. (Kutipan cerpen Sementara-Djenar Maesa Ayu)
Ibu Pram mendengarkan semuanya dari luar dengan hati meradang. Ia menyesal telah pulang. (Kutipan cerpen Kulihat Awan-Djenar Maesa Ayu)
Di atas adalah tiga dari enam belas cerpen Djenar dalam buku Saia. Bisa dibayangkan ketika membaca enam belas cerpen dengan bunyi berirama di setiap paragrafnya. Hakikat bunyi yang tadinya sebagai hiasan, djenar perlakukan seolah bunyi adalah kewajiban. Jika memang tujuan Djenar adalah untuk mengedepankan estetika bahasa, justru usahanya malah menghilangkan keindahan bahasa itu sendiri. Jelas sekali bahwa Djenar memaksakan diksi-diksinya agar berirama sama. Hal itu terlihat dari diksi atau ungkapan yang sebetulnya bisa diganti dengan diksi yang memiliki makna lebih tepat. Seperti kalimat karena klien mereka adalah seorang pesohor. Maksud Djenar mengungkapkan bahwa tokoh klien adalah seorang pesohor, tidak memiliki penjelasan apa pun sebelum atau setelahnya. Djenar seolah larut dalam euforia bunyi bahasa yang ia ciptakan. Kalaupun memang makna setiap diksi yang berirama tersebut sangat mendukung maksud cerita, Djenar seharusnya memperhatikan pula kejenuhan yang akan dialami pembaca.
Saya teringat cerpen Avianti Armand yang juga di dalamnya terdapat permainan bunyi. Dan saya begitu larut di dalamnya.
Di atas Nunnuies, matahari berkedip-kedip ketika segerombolan besar camar terbang melintasinya. Mereka menjerit-jerit seperti anak lapar, sambil mengepak-ngepakkan sayap ke tubuh. Begitu riuh. Tapi penduduk kota kecil di tepian Gibraltar itu tak sempat memperhatikan camar-camar di langit. Mata mereka terpaku ke satu titik di kakinya. (Kutipan cerpen Dongeng dari Gibraltar- Avianti Armand.)
Dalam kutipan di atas, Avianti terlihat memainkan bunyi. Avianti berhasil menjadikan bunyi sebagai unsur estetik yang mampu menciptakan suasana dan menimbulkan imaji yang jelas. Jika kita mengamini pendapat Pradopo yang menyatakan bahwa bunyi adalah hiasan dalam sebuah karya sastra, maka sudah selayaknya kita tidak memakainya secara berlebihan.
Pada akhirnya, permasalahan bunyi ini barangkali dikembalikan kepada selera pembaca. Hanya saja, tulisan Djenar akan lebih sempurna jika unsur bunyi tidak mendominasi.
Maret 2014
Sabtu, 01 Maret 2014
Ceracau Twitter
-
Tentang memahami mata dan tentang puisi yang kau bilang akan datang dengan sangat mencintaiku. kau ingat?
-
-
Mengertilah. Barangkali kau telah lupa, tapi aku tidak.
Sabtu, 11 Januari 2014
Kajian Cerpen oleh Resna J Nurkirana
“Tanda-Tanda
Kebinatangan Manusia dalam Cerpen Kupu-Kupu
Karya
Avianti Armand”
A.
PENDAHULUAN
Bahasa
merupakan sistem tanda. Tanda merupakan sesuatu yang dianggap mewakili sesuatu
yang lain. Ketika kita menyebut kupu-kupu
maka pikiran kita akan mengarah pada sebuah hewan bersayap indah. Medium
karya sastra bukanlah bahan yang bebas seperti bunyi pada seni musik atau warna
pada lukisan (Pradopo, 2012:121). Warna dan bunyi belum memiliki arti sebelum
digunakan untuk berkarya, tetapi bahasa sudah memiliki arti meski belum
dimasukkan ke dalam karya sastra. Kupu-kupu dalam sebuah karya sastra bisa jadi
bukan mengarah pada gambaran hewan seperti yang kita pikirkan, tapi mengarah pada seorang perempuan yang
masyarakat sebut pelacur. Begitulah kata dalam karya sastra memiliki fungsi
tanda. Di masyarakat, pelacur lebih dikenal dengan sebutan kupu-kupu malam. Dalam
novel ini Avianti Armand menceritakan tokoh pelacur yang ia umpamakan sebagai
kupu-kupu dengan sayap koyak dan warna pelangi.
Setelah
dianalisis, cerpen ini tidak cukup hanya dikaji dengan menggunakan struktural.
Diksi dan perumpamaan yang diungkapkan pengarang bersifat multitafsir. Maksud
pengarang tidak dapat dimengerti secara menyeluruh jika analisis cerpen ini
hanya berpaku pada unsur-unsur di dalam teks. Maka dari itu cerpen ini memerlukan
pengkajian tanda-tanda.
B.
TEORI
SEMIOTIKA
Secara
definitf, menurut Paul Cobley dan Lizta Janz (2002:4) semiotika berasal dari
kata seme, bahasa Yunani, yang berarti penafsir tanda. Literatur lain
menjelaskan bahwa semiotika berasal dari kata semion, yang berarti tanda. Dalam
pengeritan lebih luas, sebagai teori, semiotika berarti studi sistematis
mengenai produksi dan interpretasi tanda, bagaimana cara kerjanya, apa
manfaatnya terhadap kehidupan manusia. Kehidupan manusia dipenuhi oleh tanda,
dengan perantara tanda-tanda proses kehidupan menjadi efisien, dengan
perantaraan tanda-tanda manusia dapat berkomunikasi dengan sesamanya, sekaligus
mengadakan pemahaman yang lebih baik terhadap dunia, dengan demikian manusia
adalah homo semioticus (Ratna, 2013:97).
Kehidupan
manusia dibangun atas dasar bahasa, sedangkan bahasa itu sendiri adalah system
tanda. Menurut North (1990:42), tanda bukanlah kelas objek, tanda-tanda hadir
hanya dalam pikiran penafsir. Tidak ada tanda kecuali jika diinterpretasikan
sebagai tanda. Lebih jauh Arthur Asa Berger (2000), sebagai ilmu, semiotika
termasuk ilmu imperialistic, sehingga dapat diterapkan pada berbagai bidang
yang berbeda, termasuk gejala-gejala kebudayaan kontemporer (Ratna, 2013:112).
Nyoman
Kutha Ratna (2013) melanjutkan bahwa bahasa metaforis konotatif, dengan hakikat
kreatifitas imajinatif, merupakan faktor utama mengapa karya sastra didominasi
oleh system tanda. Sebagai akibat kemampuan sastra dalam menjelaskan
tanda-tanda, maka dapat ditentukan ciri-ciri dominan periode tertentu, misalnya
pandangan dunia dan ideologi kelompok, jenis hegemoni yang sedang terjadi, dan
berbagai kecenderungan lain yang ada dalam masyarakat, yang secara objektif
sulit dideteksi.
C.
TANDA-TANDA
KEBINATANGAN MANUSIA
Mencari makan, berkembang biak, tumbuh, dan memiliki
nafsu merupakan kesamaan yang dimiliki manusia dan binatang. Perbedaan yang
paling mendasari keduanya ialah akal dan pikiran. Akal dan pikiran ini yang
akhirnya membawa manusia menempati posisi sebagai makhluk yang lebih tinggi
derajatnya dibandingkan makhluk lain. Hewan mengandalkan instingnya untuk
melakukan sebuah tindakan. Berbeda halnya dengan manusia yang selalu berpikir
untuk melakukan sesuatu, baik atau buruk selalu dijadikan pertimbangan. Ketika
manusia tidak menggunakan akal dan pikirannya maka muncul istilah bahwa manusia
memiliki tanda-tanda kebinatangan.
Tanda-tanda kebinatangan manusia ialah munculnya
sikap atau perilaku binatang pada seorang manusia. Dalam cerpen Kupu-kupu,
manusia digambarkan layaknya binatang. Ketika lapar, binatang akan melakukan
berbagai cara untuk mendapatkan makan. Binatang bisa saja mencuri, membunuh,
atau bertarung sedangkan dalam cerpen ini manusia dikisahkan mencari makan
dengan cara menjual diri dan menjual orang lain.
D. KAJIAN
1.
Sinopsis
Cerpen kupu-kupu mengisahkan seorang perempuan yang berprofesi sebagai
pelacur. Perempuan itu seolah dilahirkan tanpa memiliki sebuah pilihan. Ia
dibeli oleh seseorang seharga nasi. Kini perempuan itu tidak bisa pergi dari
kehidupannya yang terlanjur hitam. Setiap malam ia menjajakan dirinya di jalan,
datang ke rumah pelanggan, dan selalu pulang membawa uang dan setumpuk dendam.
Perempuan itu menganggap kota yang ditempatinya serupa hutan berisi
binatang-binatang yang butuh hiburan. Ia menceritakan suatu malam ketika harus
menemui babi-babi, sekelompok anjing hutan, dan serigala tua di sebuah rumah
besar.
Meski kemungkinan menemukan
kebahagiaan itu sangat kecil, perempuan yang menyebut dirinya sebagai kupu-kupu
tersebut tetap memiliki sebuah harapan.
2.
Luruhnya Sifat Kemanusiaan
Simbol-simbol yang menyamakan
kota dengan hutan, manusia dengan hewan, pelacur dengan kupu-kupu, lelaki
hidung belang dengan babi atau anjing, bisa jadi merupakan maksud pengarang
untuk menggambarkan keadaan yang ada di masyarakat saat ini. Dimana manusia
tidak lagi menggunakan akal dan pikirannya ketika akan melakukan sesuatu. Dalam
cerita kupu-kupu, tanda-tanda
kebinatangan manusia digambarkan dengan adanya proses jual beli bayi perempuan
untuk dijadikan pelacur. Manusia telah benar-benar kehilangan hakikatnya
sebagai makhluk yang lebih tinggi derajatnya. Ketika seorang ibu rela menjual
anaknya untuk sesuap nasi, maka sifat-sifat kemanusiaannya perlu dipertanyakan.
Ketika manusia tidak bisa
melawan hawa nafsunya dan cenderung selalu ingin memuaskan birahinya maka
manusia tidak lagi memiliki perbedaan dengan binatang. Babi-babi, anjing hutan,
serigala tua yang diceritakan sebagai pelanggan tokoh perempuan tidak lagi
memikirkan dosa dan perasaan istri-istrinya.
3.
Sembolisasi Peristiwa
Di langit
kadang kau temukan keanehan. Selarik putih yang bukan awan, bukan sinar.
Seperti garis lintas, yang tak jelas ujung dan asalnya. Ada dan hilang.
Bergetar sayu dari jauh, dan mendekat – hingga aku bisa melihat – berjuta kepak
sayap kecil. Berkerumun. Berpencar. Lalu luruh seperti keping-keping salju.
Berapa banyakkah kupu-kupu di negeri
ini?
Paragraf di atas
merupakan imajinasi tokoh pengarang yang menceritakan langit dan keanehannya.
Keanehan yang dimaksud pada paragraf tersebut di atas adalah munculnya sebuah
garis berwarna putih yang melintas, bergetar kemudian mendekat. Diksi garis lintas tesebut mungkin ditunjukkan untuk kepak sayap yang ada di kalimat selanjutnya. Jadi keanehan di
langit tersebut menggambarkan adanya jutaan kepak sayap yang kemudian jatuh ke
bumi. Kepak sayap itu lantas diperjelas dengan munculnya kalimat –Berapa banyakkah kupu-kupu di negeri ini.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa sayap yang dimaksud adalah sayap kupu-kupu.
Simbolisasi peristiwa
di atas bisa jadi dimaksudkan untuk menganalogikan kemunculuan para perempuan
malam. Seperti yang telah kita kenal di masyarakat, sebutan kupu-kupu malam
ditujukan untuk seorang perempuan yang berprofesi sebagai pekerja seks
komersial. Pengarang menggambarkan para perempuan tersebut dilahirkan ke muka
bumi untuk menjadi pelacur yang tidak jelas ujung dan asalnya. Mereka tidak tahu oleh siapa dilahirkan dan
tidak tahu kepada siapa akan kembali. Perumpamaan -luruh seperti keping-keping salju- menggambarkan
bahwa jumlah pelacur di negeri ini sudah tidak terhitung lagi.
Setiap orang toh harus menjual
sesuatu untuk bertahan hidup. Sebagian menjual mimpi, sebagian menjual peluh.
Ia menjual mimpi berpeluh. Itu sah saja di dunia di mana setiap orang akan
mengambil apa yang mereka butuhkan. Dan ia tak malu, meski tetap akan berdusta.
Lebih memalukan bila tak punya apa-apa untuk dijual.
Maksud paragraf di atas ialah pembenaran yang
diungkapkan pengarang mengenai seseorang yang harus menjual diri. Menjual diri
dalam paragraf tersebut disimbolkan dengan menjual mimpi berpeluh. Menjual
mimpi dianggap lebih baik daripada tidak memiliki apapun untuk dijual.
Tapi bila malam mulai turun dan
birahi naik, tangan-tangan hitam akan melepaskan kami, menghambur keluar dari
celah-celah kota yang sempit dan tak pernah sama. Kenakan topeng kalian, teman.
Malam ini kita berpesta. Kota ini tak pernah tidur, dan selalu ada yang butuh dihibur.
Maksud kalimat Tapi
bila malam mulai turun dan birahi naik- ialah malam digambarkan sebagai waktu dimana manusia memiliki keinginan
lebih untuk memuaskan nafsu seksualnya. Tangan-tangan
hitam akan melepaskan kami- Saat malam tiba para perempuan itu akan
dipersilahkan keluar untuk bekerja. Malam
ini kita berpesta. Kota ini tak pernah tidur, dan selalu ada yang butuh dihibur-.
Pengertian berpesta dalam kalimat
tersebut bukan merayakan sesuatu dengan jamuan makan atau minum, melainkan
melayani para lelaki hidung belang yang membutuhkan hiburan dari perempuan
malam.
Dikenakannya sayap yang koyak di tepi, dan terbang. -Sayap yang koyak di tepi bisa diartikan sebagai
pakaian yang perempuan itu kenakan untuk bekerja atau semangat yang terpaksa ia
tumbuhkan setiap malam hanya untuk bertahan hidup.
Gadis itu melayang dan menari, dengan sayap sedikit koyak
dan warna pelangi. Terkepak, meski berat dan basah. Ia menari melintasi jalan
layang dan mobil terbang, juga kolong jembatan, lalu berhenti – tersangkut pada
cabang-cabang asam kranji yang telanjang.
Paragraf di atas menceritakan
saat perempuan tersebut mulai berjalan mencari pelanggan. Berat dan basah- bisa jadi menunjukan sebuah ketidakikhlasan dan
kesedihan perempuan tersebut. Lalu
berhenti, tersangkut pada cabang-cabang asam kranji yang telanjang. Maksud dari kalimat tersebut bisa
jadi menceritakan si perempuan behenti berjalan lalu teringat tentang kehidupannya
yang kelam.
Anak nakal, bentaknya, sambil memukuli pantatku.
Berkali-kali. Anak nakal, dampratnya, sambil melecuti punggungku. Berkali-kali.
Anak nakal, desahnya, sambil menembusiku. Berkali-kali. Dengan mata terpejam
dan seringai tanpa gigi. Aku akan pura-pura memohon. Ampun. Ampun. Ia akan
segera usai dan jatuh tertidur. Sesudahnya, aku harus menyelimutinya.
Paragraf
di atas menceritakan adegan-adegan yang dilakukan si perempuan saat bekerja. Ia
harus melayani pelanggannya sebaik mungkin. Ia selalu menuruti apa yang
diperintahkan. Hal terpenting adalah ia mendepat upah setelahnya.
4.
Simbolisasi binatang
3.1 Kupu-kupu
Tapi aku bukan anjing, cuma
kupu-kupu, dengan sayap sedikit koyak dan warna pelangi. Anjing-anjing tak akan
bisa melukaiku. Tidak dengan buntut yang terselip di sela kaki belakang, dan
lidah yang selalu terjulur. Aku akan terbang, sebelum mereka sempat menyalak.
Kupu-kupu yang dimaksud pada
paragraf tersebut ialah seorang perempuan yang bekerja sebagai pelacur. Hal ini
diperkuat dengan pengakuan tokoh aku sebagai berikut.
3.2
Babi-babi
Di pohon-pohon raksasa itu tinggal
babi-babi dengan tubuh tambun dan lemak bertumpuk. Babi-babi akan menyukai
apel-apel kecil di dadaku.
Babi-babi itu merupakan sebutan tokoh aku untuk para
pelanggannya yang kaya dan rakus.
1.3 Anjing
hutan
Tak jauh dari situ, selemparan
tulang saja, akan kautemukan rumah-rumah anjing – tersembunyi di balik belukar
yang berduri. Hati-hati. Duri-duri itu pernah merobekku, membuatku tak utuh
lagi. Kau dengar lolongan itu? Anjing-anjing hutan akan tak sabar menanti saat
bermain. Mereka bilang kuda-kudaan. Kubilang, ini anjing-anjingan.
Sama halnya dengan babi, anjing juga merupakan pelanggan
tokoh perempuan. Perbedaannya terletak pada tempat tinggal. Babi-babi tinggal
di pohon raksasa sedangkan anjing-anjing tinggal di sebuah rumah. Hal tersebut
menandakan bahwa anjing-anjing itu tidak lebih kaya dari babi hutan, hanya saja
anjing itu lebih berbahaya karena memiliki istri yang bisa melukai si perempuan
kapan saja.
3.4 Serigala Tua
Lalu hinggap di sebuah rumah besar tengah hutan. Di sana
telah menunggu seekor serigala tua yang telah kehilangan hampir semua giginya.
Serigala
tua adalah sebutan bagi pelanggan tokoh perempuan yang sudah tua tetapi sangat kaya.
Hal ini diperkuat dengan kalimat yang menceritakan bahwa si perempuan selalu
mampu membeli sekeranjang roti dan apel untuk sebulan setelah melayaninya.
5.
Simbolisasi Benda
4.1 Merah, jingga, hijau, dan
jambon.
Telah dikenakannya merah pada bibirnya dan jingga pada kedua
puluh kuku kaki dan tangannya. Dia memulas hijau pada kelopak mata, juga jambon
pada tinggi tulang pipinya.- Kupu-kupu Avianti Armand
Dalam
paragraf di atas penulis tidak menggunakan nama objek secara langsung melainkan
sifat dari objek itu sendiri. Misalnya diksi merah yang mengacu pada alat
kosmetik bernama lipstick, jingga
yang mengacu pada kuteks, warna hijau
yang mengacu pada blash on, dan diksi
jambon yang mengacu pada shadow. Gaya
penceritaan tersebut merupakan upaya penulis untuk mempertahankan estetika dan
kelirisan bahasa yang sudah dibangun dari awal cerita.
4.2 Apel-apel kecil
Babi-babi akan menyukai apel-apel kecil di dadaku.
Apel-apel kecil yang dimaksud dalam kalimat tersebut adalah puting payudara
si perempuan. Hal ini dikarenakan perumpamaan apel tersebut mengarah pada
hal-hal berbau seksual.
4.3 Sabun dan sepatu kaca
Kau akan sanggup membeli sabun wangi sesudahnya, dan
sepasang sepatu kaca
Sabun
wangi dan sepatu kaca memiliki pengertian segala kebutuhan si perempuan untuk
menunjang kehidupannya.
2.
Simbolisasi Tokoh
4.1
Seorang Ibu
Pada suatu ketika yang mungkin, seorang ibu
yang bukan ibunya menarik tubuh mungilnya dari debu. Di matanya ada teduh. Apa
maumu, tanya gadis kecil itu. Ibu mengernyit
Seorang ibu itu merupakan tokoh protagonis yang
hadir dalam mimpi si perempuan. Ibu tersebut kemudian mengajarkan banyak hal.
Tentang tawa dan lupa misalnya.
4.2
Peramal Buta
Ibu
tadi menoleh padanya dan menggeleng. Tawa tak selamanya tulus dan lupa akan
menggerogotimu. Suatu ketika tawa akan jadi air mata, dan lupa membolongi
kepalamu. Tubuhmu akan kosong seperti mayat. Jika terlena, kau takkan bisa
kembali. Tapi kau harus berdiri, dan katakan: Aku mau Peramal Buta!
Dalam cerita sebelumnya, Ibu tersebut menawarkan
sebuah sirkus yang akan membuat si perempuan tertawa bahagia. Tapi Ibu itu juga
mengingatkan bahwa tawa akan jadi air mata dan lupa akan menggerogotinya.
Artinya kebahagiaan hanya akan datang sementara. Setelah itu Ibu tadi meminta
si perempuan untuk berteriak tentang peramal buta. Peramal buta diceritakan
selalu melihat lebih jernih dari mata. Peramal buta bisa jadi diartikan sebagai
perumpamaan dari hati. Hati manusia terkadang selalu tahu mana yang baik dan
mana yang salah. Hati juga sesekali bisa menebak sesuatu yang akan terjadi.
Mungkin karena itulah penulis mengumpamakan hati dengan peramal buta.
4.3
Tangan-tangan hitam
Aku
ingin pergi. Entah dalam gelembung sabun. Entah dengan sapu terbang. Tidak
lewat pintu, tentu. Tangan-tangan hitam akan menahanku. Tak boleh pergi, kata
mereka, tubuh ini milik kami sejak kamu berupa bayi yang kami beli dengan nasi.
Kamu berhutang, tangan-tangan hitam akan berseru. Aku telah membayar dengan
tubuhku, protesku. Seumur hidupku.
Tangan-tangan hitam yang dimaksud penulis ialah
orang yang telah membeli si perempuan untuk dijadikan pelacur. Hitam identik
dengan kotor dan dosa. Maka penulis menganalogikan para germo dengan
tangan-tangan hitam, tangan-tangan yang penuh dengan dosa.
3.
Simbolisasi Alam
5.1 Hutan
Kota ini? Aku menyebutnya: Hutan
ini. Lihat, lihat. Awan tersangkut di pucuk-pucuknya dan ribuan kunang-kunang
telah terbang. Dengar, dengar, suara-suara purba itu. Binatang-binatang telah
bangun dan kini lapar. Aku akan terbang dan singgah di tiap tempat yang
menyebut namaku.
Tokoh aku mengumpamakan
kota yang ditempatinya sebagai hutan yang pernuh dengan kunang-kunang dan
binatang lapar. Ia memilih hutan karena hutan jarang dihuni oleh manusia.
Sedang di kota tempat ia tinggal, manusia tak ubahnya seperti binatang, tidak
berakal dan berperasaan. Banyak manusia yang rela melakukan apa saja untuk
memenuhi kebutuhan perut dan duniawinya.
5.2 Pohon Raksasa
Di pohon-pohon raksasa itu tinggal babi-babi dengan tubuh
tambun dan lemak bertumpuk.
Dikarenakan tokoh aku
menganggap kota sebagai hutan. Maka rumah-rumah pelanggannya dianalogikan
dengan pohon-pohon raksasa.
3.3
Mimpi
Angin
tiba-tiba bertiup, meluruhkan bintang-bintang yang seketika jadi arang begitu
menyentuh tanah. Dalam sesaat yang tak sampai dua detik, kudengar namaku
disebut. Aku menoleh, dan di depanku, sebuah jalan setapak telah terbentuk.
Dengan batu-batu hitam di antara pohon-pohon yang membungkuk.
Deskripsi yang menggambarkan
peristiwa alam itu merupakan mimpi yang dialami tokoh perempuan. Pengarang
dengan lihai menggambarkan mimpi dengan fenomena alam yang mustahil terjadi.
E.
Simpulan
Dalam cerpen ini, pengarang seolah-olah ingin
mengungkapkan bahwa seseorang yang memilih profesi sebagai pelacur tidak
sepenuhnya bersalah. Kesalahan berawal dari hilangnya rasa kemanusiaan dan
munculnya sifat-sifat kebinatangan dalam diri seseorang. Hal itulah yang
menyebabkan tokoh aku harus menjalani kehidupannya yang begitu menyedihkan. Dengan
bahasanya yang liris dan satir, pengarang mampu memunculkan empati pembaca
kepada tokoh aku. Tokoh yang seakan-akan menjadi korban dan tidak memilki
pilihan. Tokoh yang digambarkan sangat anggun bak kupu-kupu terbuang.
Penulis mampu menghadirkan tema
yang maindstream dengan gaya yang
berbeda dan berani. Tanda-tanda yang dibuat oleh penulis kerap memunculkan
pertanyaan dan membuat pembaca berpikir. Cerpen Kupu-kupu merupakan karya sastra dengan tanda-tanda yang tidak
biasa.
Kajian Puisi Struktural Semiotik
Antara Alegori Atau Realita
oleh
Resna J Nurkirana
Abstrak : Puisi
atau sajak merupakan sebuah struktur yang kompleks, maka untuk memahaminya
perlu dianalisis sehinga dapat diketahui bagian-bagian serta jalinannya secara
nyata (Pradopo, 2012:14). Puisi memiliki unsur-unsur pembentuk makna yang
menjadi satu kesatuan tak terpisahkan. Puisi
“Buat
Anna Politkovskaya” karya Bode Riswandi memiliki daya tarik dari berbagai segi, misalnya dari
pemilihan diksi, gaya bahasa dan teka-teki yang terkandung di dalamnya. Untuk
benar-benar memahami setiap unsurnya secara keseluruhan, diperlukan sebuah
pengkajian terhadap puisi tersebut dengan menggunakan teori struktural semiotik.
Kata kunci : Struktur, fenomenologis, heuristik,
heurmeunetik, mimetik.
2009, Bode Riswandi
Buat
Anna Politkovskaya
Salju
yang runtuh dari rambut kelabumu
Semacam
peluru makarov yang dilempar
Seseorang
ke dada dan kepalamu.
Lantas
orang-orang bernyanyi untukmu, tentang nasib serta takdir mereka yang bermukim
di lobang senjata.
Di
checnya kematian itu mudah tumbuh. Bagaikan rumput katamu. Berlapis-lapis
ketakutan menjalar di dinding dan di kanal.
Aku
menatap jauh ke langit kelabu, namun tidak sekelabu rambutmu yang menusuk banar
peristiwa.
Aku
bernyanyi untukmu, Anna. Ketika jari lentikmu berdarah mencium aroma bangsa
yang punah.
Di
jalan-jalan, di tenda-tenda salju turun lebih kerap dari sebelumnya.
Tapi
nama-nama yang terkuras air matanya lebih kerap dari sekedar salju itu, Anna.
Aku
bernyanyi untukmu, Anna. Ketika salju tak cukup memadamkan bara di tubuhmu
Ketika
burung-burung terbang ke dasar waktu.
Dan
beratus pasang biji mata di giring ke arahmu.
Salak
anjing lari dari jiwa hutan, rasa dingin lari dari tubuh salju, dan warna senja
lari dari langit kelabu. Lalu yang datang kepadamu, Anna.
Mungkin
rahasia atau kabar yang sederhana.
2009, Bode Riswandi
A.
PENDAHULUAN
Ricoeur
dalam Faruk (2012:45) mengatakan bahwa karya sastra menjadi wacana yang tidak
bertuan, terpisah dari kenyataan sosial, dan tidak diarahkan pada orang atau
kelompok orang tertentu yang ada dalam situasi dan kondisi produksinya.
Pendapat tersebut kemudian dibantah oleh usaha Swingewood yang mencoba
membangun pertalian antara karya sastra dengan dunia sosial. Ia kemudian
menggunakan teori mimesis dari plato yang mengatakan bahwa dunia dalam karya
sastra merupakan tiruan terhadap dunia kenyataan yang sebenarnya juga merupakan
tiruan terhadap dunia ide. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa karya
sastra yang di dalamnya merupakan rekaan dari sebuah realitas, tidak bisa lepas
dari unsur-unsur yang berada di luar strukturnya.
Puisi
dikatakan berstruktur karena ia adalah sebuah keseluruhan yang terbangun dari
unsur-unsur yang saling berhubungan di dalamnya (Faruk, 2012:132). Teori
analisis struktural memandang bahwa karya sastra berdiri otonom, merupakan satu
kesatuan yang utuh, bulat, dan mencukupi dirinya sendiri. Dalam hal ini dapat
dikatakan bahwa teori struktural murni melepaskan sajak dari penyair dan
masyarakatnya. Padahal menurut Teeuw dalam Pradopo (2012:125), sebuah sajak
(karya sastra) tidak hadir atau tidak dicipta dalam kekosongan budaya. Sebuah
karya sastra tidak terlepas dari pengarang yang menuliskannya. Pengarang tidak
terlepas dari paham-paham, pikiran-pikiran, atau pandangan dunia pada zamannya
ataupun sebelumnya. Juga tidak lepas dari kondisi sosial budayanya. Semuanya
itu tercermin dalam karyanya, tercermin dalam tanda-tanda kebahasaan dan
lainnya.
Puisi “Buat Anna Politkovskaya”lahir dari seorang penyair kelahiran tasik
bernama Bode Riswandi. Pertanyaan yang pertama kali muncul ketika membaca puisi
tersebut adalah identitas seseorang bernama Anna Politskovskaya. Jika hanya
menganalisis keterkaitan unsur yang berada di dalam karya, kita bisa mengambil
kemungkinan bahwa Anna adalah sosok imajiner yang diciptakan Bode yang digambarkan
mengalami beberapa peristiwa tragis selama hidupnya. Tapi jika kita berpijak
pada teori-teori yang telah dipaparkan sebelumnya, bahwa puisi lahir dari
kondisi sosial budayanya, bahwa puisi merupakan tiruan dari realita, akan ada
kemungkinan bahwa Anna bukan semata-mata tokoh rekaan yang Bode ciptakan dari
pikirannya, melainkan tokoh yang benar-benar ada dan hidup di masyarakat.
Melalui pendekatan fenomenologis yang menganalisis setiap unsur di dalam karya
dan pendekatan mimetik yang menghubungkan karya dengan realita, diharapkan
maksud dari puisi Bode dapat dipahami secara menyeluruh.
B.
KAJIAN
Pada
pendahuluan telah disinggung bahwa sajak merupakan sebuah struktur tanda-tanda
yang bermakna. Hal ini memberikan kemungkinan bahwa sebuah karya sastra dapat
dianalisis secara otonom tanpa mengaitkannya dengan pelbagai hal di luar karya.
Dalam
Pradopo (2012:14) dijelaskan bahwa karya sastra itu tak hanya meruapakan satu
sistem norma, melainkan terdiri dari beberapa strata atau lapis norma. Norma
itu sendiri menurut Rene Wellek (1968:150-151) jangan dikacaukan dengan
norma-norma klasik, etika, ataupun politik. Norma itu harus dipahami sebagai
norma implisit yang harus ditarik dari setiap pengalaman individu karya sastra
dan bersama-sama merupakan karya sastra yang murni sebagai keseluruhan
(Pradopo, 2012:14).
Berikut
akan dipaparkan terlebih dahulu analisis struktur dengan menggunakan analisis
strata norma Roman Ingarden.
Menurut
Pradopo (2012:16) lapis bunyi dalam sajak ialah semua satuan bunyi berdasarkan
konvensi bahasa tertentu, dalam hal ini Bahasa Indonesia. Hanya saja
pembicaraan lapis bunyi dalam sebuah puisi difokuskan pada bunyi-bunyi yang
bersifat istimewa atau khusus, yaitu yang mempergunakan efek puitis atau nilai
seni. Sajak “Buat Anna Politskovskaya” memiliki beberapa bunyi yang terdengar
berirama seperti tertuang pada baris pertama, /Salju yang runtuh dari rambut kelabumu/. Baris tersebut didominasi
oleh asonansi huruf u yang menyebabkan
puisi tersebut terdengar merdu. Kemudian pada baris ke tujuh, /Ketika jari lentikmu berdarah mencium aroma
bangsa yang punah/ terdapat alterasi huruf h yang menimbulkan suasana pilu dan mencekam.
Hal
ini akan berkaitan erat dengan pemilihan diksi yang ada dalam puisi tersebut.
Jika saja puisi ini tidak memerhatikan keselarasan bunyi, bisa saja diksi rambut kelabumu diganti menjadi rambut
berubanmu atau misalnya diksi punah
diganti menjadi hilang atau mati. Hal
tersebut membuktikan bahwa setiap unsur sajak biasanya saling melengkapi. Diksi
yang dipakai akan memerhatikan keindahan bunyi agar menimbulkan irama yang
padu. Namun tidak semua puisi terus menerus bermain di ranah bunyi, termasuk
sajak di atas. Dapat dikatakan sajak tersebut lebih banyak memiliki bunyi yang
tidak merdu atau kakofoni, hal ini bisa jadi bertujuan untuk mendukung sebuah
suasana kacau yang ingin dihadirkan pada pembaca.
Bunyi
berirama hanya ditemukan pada baris-baris tertentu, selebihnya puisi ini lebih
mengedepankan diksi dan gaya bahasa demi memunculkan sebuah suasana yang liris
dan tragis. Beberapa diksi yang terdengar asing diantaranya salak, banar, dan peluru makarov. Tiga diksi tersebut sebenarnya bisa saja digantikan
dengan lolongan, akar, atau peluru jika ingin membuat pembaca lebih mudah
memahaminya. Tapi tidak demikian, puisi ini benar-benar memerhatikan
keterkaitannya dengan unsur lain. Tiga diksi di atas mungkin saja bertujuan
untuk menambah suasana tegang dalam puisi tersebut.
Selain
itu gaya bahasa yang banyak muncul diantaranya metafora, simile, dan
personifikasi. /Di checnya kematian itu mudah tumbuh bagaikan rumput/, puisi ini membandingkan kematian dengan
rumput yang memiliki sifat mudah tumbuh. Baris ini menggunakan gaya bahasa
simile, yaitu bahasa kiasan yang menyamakan satu hal dengan hal lain dengan
mempergunakan kata-kata pembanding (Pradopo, 2012:62). Dalam baris di atas,
simile dibuktikan dengan diksi bagaikan. Pun dengan baris yang berbunyi /Salju yang runtuh dari
rambut kelabumu semacam peluru makarov yang dilempar / menggunakan kata
pembending semacam.
Tidak jauh berbeda dengan simile, terdapat gaya
bahasa metafora. Perbedaan keduanya hanya terletak pada ada tidaknya diksi
pembanding seperti bagai, bak, semisal, seumpama dan sebagainya. Dalam puisi di
atas, gaya bahasa metafora ditemukan pada baris /Aku menatap jauh ke langit
kelabu, namun tidak sekelabu rambutmu yang menusuk banar peristiwa/. Puisi
ini mengumpamakan langit kelabu dengan rambut kelabu tokoh Anna yang mampu
menusuk banar/akar peristiwa.
Selain itu gaya bahasa personifikasi ditemukan pada
baris /Salak anjing lari dari jiwa hutan, rasa dingin lari dari tubuh salju,
/dan warna senja lari dari langit kelabu/.
Personifikasi merupakan kiasan yang
mempersamakan benda dengan manusia (Pradopo, 2012:75). Puisi ini menyuguhkan
sebuah fenomena imajinatif dengan menggambarkan tiga hal yang dikiaskan lari
dari tempatnya bak manusia yang sudah tidak betah tinggal di rumahnya. Semua hal di atas semata-mata untuk menambah efek
puitis sebuah puisi dan kedalaman makna yang terkandung di dalamnya.
Puisi ini juga memakai sarana retorika yang
dinamakan tautologi. Dalam Pradopo (2012:95) menjelaskan bahwa tautologi ialah
sarana retorika yang menyatakan hal atau keadaan dua kali. Aku bernyanyi untukmu, Anna/ ditemukan pada baris ketujuh dan baris kesepuluh.
Hal ini bertujuan untuk memberikan penegasan dan pemaknaan yang lebih mendalam
bagi para pembaca.
Setelah analisis lapis suara diatas maka dapat
diambil kesimpulan bahwa unsur-unsur yang lahir dalam puisi “Buat Anna
Politskovskaya” saling menguatkan satu sama lain. Bunyi yang kacau, diksi yang
asing, majas-majas mengharukan, dan tipografi yang tidak beraturan merupakan
satu-kesatuan yang mampu melibatkan emosi dan perasaan pembaca.
Bahasa adalah
bahan mentah sastrawan (Wellek dan Werren, 1989:217). Jika para pelukis
menjadikan kanvas dan cat air sebagai alat untuk melukis, maka penulis
menjadikan bahasa sebagai mediumnya. Dalam
bahasa itu sendiri terdapat satuan-satuan bahasa diantaranya fonem, suku kata,
kata, kalimat, alinea, bait, dsb. Pun dengan sajak Bode berjudul “Buat Ana
Politskovskaya”, di dalamnya terdapat kata-kata yang dirangkai menjadi sebuah
kalimat bermakna.
/Salju
yang runtuh dari rambut kelabumu /Semacam peluru makarov yang dilempar seseorang
ke dada dan kepalamu. / Pada bait tersebut, seseorang yang
disebut –mu digambarkan memiliki
rambut berwarna kelabu dan menjatuhkan runtuhan salju. Karena sajak ini
berjudul “Buat Anna Politskovskaya”
maka dapat diambil kesimpulan sementara bahwa seseorang yang digambarkan
berambut kelabu ini adalah Anna. Selain
itu Anna dikisahkan terkena lemparan peluru makarov di dada dan kepalanya.
Lemparan tersebut dapat diartikan sebagai tembakan, mengacu pada benda yang
dilemparkan yakni sebuah peluru yang sudah pasti berasal dari sebuah benda
bernama senjata/pistol.
/Lantas orang-orang bernyanyi
untukmu, tentang nasib serta takdir mereka yang bermukim di lobang senjata/ Di
checnya kematian itu mudah tumbuh. Bagaikan rumput katamu. Berlapis-lapis
ketakutan menjalar di dinding dan di kanal/. Setelah
kejadian penembakan tersebut, banyak orang yang bernyanyi untuk Anna. Nyanyian
yang berbicara mengenai nasib serta takdir orang-orang yang bermukim di lobang
senjata dapat diartikan sebagai suara-suara atau pendapat orang-orang tentang Anna
dan mereka yang berada di medan perang. Itu menandakan bahwa sosok Anna adalah
seseorang yang berjibaku dengan hal-hal berbau peperangan. Hal ini dijelaskan
lagi pada baris berikutnya yang menyebutkan suatu tempat dimana di tempat
tersebut sering terjadi kematian. Puisi tersebut menggambarkan kematian seperti
rumput yang mudah tumbuh. Kematian di Checnya seakan-akan menjadi hal yang
biasa dan sering terjadi sampai-sampai memunculkan rasa takut dimana-mana.
/Aku menatap jauh ke langit kelabu,
namun tidak sekelabu rambutmu yang menusuk banar peristiwa./ Aku bernyanyi
untukmu, Anna. Ketika jari lentikmu berdarah mencium aroma bangsa yang punah./
Di jalan-jalan, di tenda-tenda salju turun lebih kerap dari sebelumnya./ Tapi
nama-nama yang terkuras air matanya lebih kerap dari sekedar salju itu, Anna./
Bait
di atas masih berbicara mengenai hubungan Anna dengan sekelompok bangsa yang
dikatakan punah. Dalam bait tersebut digambarkan bahwa kerapnya air mata
kesedihan mengalahkan kerapnya salju yang turun di jalan-jalan maupun
tenda-tenda. Tenda dapat dihubungkan dengan sebuah pengungsian. Jika ditarik
kesimpulan sementara maka Checnya merupakan tempat yang berisi orang-orang yang
mengungsi.
/Aku bernyanyi untukmu, Anna.
Ketika salju tak cukup memadamkan bara di tubuhmu/ Ketika burung-burung terbang
ke dasar waktu. /Dan beratus pasang biji mata di giring ke arahmu./ Dalam
bait ini digambarkan empati si aku yang bernyanyi untuk Anna ketika orang-orang
mengetahui apa yang terjadi dengan Anna.
/Salak anjing lari dari jiwa hutan,
rasa dingin lari dari tubuh salju, dan warna senja lari dari langit kelabu.
Lalu yang datang kepadamu, Anna. /Mungkin rahasia atau kabar yang sederhana./ Gaya
bahasa perumpamaan yang begitu dominan dalam bait terakhir ini membuat pembaca
akan sulit menafsirkan maksud atau fenomena yang terjadi dengan Anna.
Satu-satunya yang dipahami adalah Anna mendapatkan sebuah kabar atau berita
yang sederhana.
Setelah
menganalisis lapis suara dan lapis arti maka yang akan dibahas berikutnya ialah
lapis ketiga. Pembahasan ini berisi tentang tokoh, latar, alur, dan objek-objek
yang terdapat dalam sajak tersebut. Dalam sajak ini diceritakan seorang tokoh
aku yang menyimpan rasa empati kepada sosok berambut kelabu bernama Anna
Politskovskaya. Anna mati tertembak peluru makarov di dada dan kepalanya.
Setelah itu banyak orang-orang yang bernyanyi untuk Anna termasuk si aku.
Satu-satunya latar tempat yang tersurat dalam sajak tersebut adalah Checnya. Di
checnya kematian digambarkan menjadi suatu hal yang lumrah. Anna
Politskoovskaya dipastikan memiliki hubungan dengan orang-orang yang berada di
Checnya. Checnya digambarkan sebagai bangsa yang punah, bangsa yang sering
merasakan kesedihan. Pertanyaan yang kemudian muncul di setiap benak pembaca
adalah –siapakah Anna Politskovskaya?
Pemaparan
mengenai fenomena yang terjadi di dalam puisi tersebut tidak cukup mengungkap
maksud puisi secara menyeluruh. Keberadaan tokoh Anna Politskovskaya masih
belum jelas asal-usulnya. Apakah ia ada di kehidupan nyata atau hanya sosok
imajiner yang diciptakan oleh pengarangnya. Apakah tragedi penembakan yang
terjadi pada Anna adalah sebuah alegori atau benar-benar terjadi di dunia
nyata.
Pradopo
(2012:19) mengemukakan bahwa analisis strata norma Roman Ingarden itu dapat
dikatakan hanya analisis puisi secara formal saja, menganalisis
fenomena-fenomena saja. Rene Wellek (1986:156) menilai bahwa analisisnya yang
maju itu menjadi berkurang nilainya karena tidak dihubungkan dengan penilaian.
Analisis strata norma dimaksudkan untuk mengetahui semua unsur (fenomena) karya
sastra yang ada. Dengan demikian, akan dapat diketahui unsur-unsur pembentuknya
dengan jelas. Namun analisis yang hanya memecah-mecah demikian, dapat berakibat
mengosongkan makna karya sastra (T.S ELIOT Via Sansom, 1960:155 dalam Pradopo,
2012:20)
Jika
kita simpulkan pendapat-pendapat di atas, analisis yang sudah dipaparkan
sebelumnya perlu ditindaklanjuti guna mengetahui makna sajak seutuhnya. Teori
semiotika dengan pendekatan mimetik menjadi salah satu pilihan untuk menganalis
karya lebih jauh lagi. Menurut Pradopo (2012:294) untuk konkretisasi makna puisi dapat
diusahakan dengan pembacaan heuristik dan heurmeunetik. Pada mulanya sajak
dibaca secara heuristik, kemudian dibaca ulang secara heurmeunetik. Pemaparan
sebelumnya dengan menggunakan lapis norma pertama hingga lapis norma ketiga
dapat disebuat pula dengan pembacaan heuristik. Berikut akan dipaparkan
analisis karya melalui pembacaan heurmeunetik.
Pembacaan Heurmeunetik
Dalam
kritik aliran Hegel dan Taine, kebesaran sejarah dan sosial disamakan dengan
kehebatan arstrik. Seniman menyampaikan kebenaran yang sekaligus juga merupakan
kebenaran sejarah dan sosial. Karya sastra merupakan “dokumen karena merupakan
monumen” (Wellek dan Werren, 1989:111).
Berangkat dari pendapat Hegel dan
Taine, puisi “Buat Anna Politskovskaya”
karya Bode Riswandi dicurigai memiliki nilai sejarah yang perlu diungkap. Hal
ini bisa dikuatkan dengan munculnya nama seseorang, perstiwa, dan tempat dalam
puisi tersebut. Dalam Wellek dan Werren (1989:122) dijelaskan pendekatan yang
umum dilakukan terhadap hubungan sastra dan masyarakat adalah mempelajari
sastra sebagai dokumen sosial, sebagai portet kenyataan sosial.
Hal
di atas bisa menjadi pijakan untuk memberikan kemungkinan bahwa puisi Bode
merupakan salah satu potret dari realita sosial. Entah Anna adalah sosok
imajiner yang diciptakan untuk menggambarkan realita sosial di sekitar
pengarang atau Anna adalah sosok nyata yang pernah hidup dan tercatat dalam sebuah
sejarah yang pernah ada di masyarakat. Pendekatan mimetik yang ditawarkan
Abrams mengungkapkan bahwa karya sastra memiliki hubungan dengan
realita/kenyataan. Maka dari itu untuk mengetahui identitas Anna dalam puisi Bode
bisa dilakukan dengan cara mencari data di luar karya.
Tulisan David Rudra di dunia maya mengenai
Anna Politskovskaya memaparkan bahwa Anna adalah seorang wartawan yang lahir di
New York pada tahun 1958. Anna merupakan alumni Universitas Negeri di Moskow
jurusan Jurnalistik. Karirnya sebagai seorang wartawan dimulai dari koran
Izvestiya. Dunia internasional mengenalnya sebagai seorang wartawan paling
kritis di Rusia. Setidaknya, dalam perjalanan karirnya sebagai wartawan dan
aktivis HAM, Anna Politkovskaya menerima 10 penghargaan dari Amnesty
Internasional, Reporter Without Borders, dan Organisasi Keamanan dan Kerjasama
Eropa. Hal tersebut memberi satu keterangan bahwa Anna dalam puisi Bode bukan
hanya sosok imajiner pengarang.
Melalui
diksi dan metafora yang dihadirkan dalam puisi tersebut kita dapat mencari tahu
lebih jauh tentang Anna Politskovskaya.
/Salju yang
runtuh dari rambut kelabumu/ Baris tersebut memberikan sebuah
gambaran bahwa Anna Politskovskaya merupakan seseorang yang memliki rambut
berwarna abu-abu. Penggambaran tersebut untuk menunjukan bahwa umur Anna sudah
tidak lagi muda. Jika melihat data di atas, pada saat pengarang menulis puisi
ini tahun 2009, umur Anna diperkirakan 51 tahun. Maka dapat dikatakan pengarang
begitu apik menggambarkan Anna yang sudah beruban dengan diksi rambut kelabumu. Diksi salju yang dituliskan di awal kalimat
bisa langsung memberikan sebuah penegasan bahwa Anna bukanlah seseorang yang
hidup di sekitar pengarang, yaitu Indonesia. Seperti yang telah diketahui
bersama bahwa Indonesia merupakan negara yang tidak pernah mengalami musim
salju. Setelah mengetahui biodata Anna yang menjalani studi di moskow, maka
diksi salju merupakan upaya pengarang untuk memberikan petunjuk kepada pembaca
bahwa latar yang dihadirkan adalah tempat yang memiliki musim salju, dalam hal
ini Moskow.
/Semacam peluru makarov yang
dilempar /Seseorang ke dada dan kepalamu/. Baris ini
menceritakan bahwa sesuatu telah terjadi pada Anna Politskovskaya. Menurut
beberapa data di internet, Anna ditembak mati di dada dan kepala oleh seseorang
misterius pada tahun 2006 di apartemennya. Ini berarti pengarang menulis puisi
saat Anna sudah meninggal tiga tahun sebelumnya, pada umur 48 tahun.
/Lantas orang-orang bernyanyi
untukmu, tentang nasib serta takdir mereka yang bermukim di lobang senjata./ Di
checnya kematian itu mudah tumbuh. Bagaikan rumput katamu. Berlapis-lapis
ketakutan menjalar di dinding dan di kanal./
David Rudra meneruskan tulisannya yang menceritakan hubungan
Anna dengan Checnya. Dalam tulisan tersebut dikatakan bahwa Anna berubah
menjadi harimau yang sangat ditakuti. Anna bukan saja menjadi seorang wartawan
yang kritis, tapi juga sebagai analis yang mencatat perang kotor antara Rusia
dan Grilyawan Chechnya. Dalam sebuah catatan, Anna Politkovskaya bahkan sempat
mendokumentasikan perlakuan kejam militer Rusia dan pasukan yang loyal kepada
Kadyrov terhadap penduduk checnya.
Dia menulis tentang pembunuhan
massal, penculikan, hingga serdadu Rusia yang menjual tulang belulang
gerilyawan Chechnya kepada keluarganya untuk dimakamkan secara Islam.
Tulisan-tulisan itulah yang mengantarkannya sebagai kritikus perang tervokal.
Akibatnya, ancaman demi ancaman datang menghampiri Anna.
Jelas
sudah maksud dari baris di atas yang menyebut Checnya sebagai tempat yang tidak
asing dengan peristiwa kematian. Menurut data Checnya merupakan wilayah yang
ingin membentuk negaranya sendiri layaknya timor-timur di Indonesia saat itu,
namun sayangnya tidak ada satupun negara yang mau mengakuinya. Rusia merupakan
satu-satunya negara yang paling gencar melakukan perlawanan terhadap keinginan
Checnya. Anna Politskovskaya kemudian melakukan liputan investigasi di Checnya
dan membuat sebuah buku yang menggambarkan berbagai peristiwa pelanggaran HAM
di Checnya. Keberanian Anna menguak kekejaman Rusia akhirnya mengantarkan Anna
pada kematiannya yang sudah dibahas pada baris kedua puisi Bode.
/Lantas orang-orang bernyanyi
untukmu, tentang nasib serta takdir mereka yang bermukim di lobang senjata./ Dari
pemaparan di atas, maka baris pada puisi Bode yang menyatakan bahwa orang-orang
bernyanyi untuk Anna dimaksudkan untuk mengkiaskan orang-orang yang peduli
terhadap peristiwa yang menimpa Anna. Banyak protes dan tulisan dari masyarakat
yang menuntut keadilan untuk Anna dan Checnya.
/Aku bernyanyi untukmu, Anna.
Ketika jari lentikmu berdarah mencium aroma bangsa yang punah/. Diksi
jari lentikmu berdarah kemungkinan besar ditujukan kepada Anna yang berprofesi
sebagai wartawan. Dimana wartawan identik dengan sebuah tulisan dan tulisan
dapat dihubungkan dengan sebuah jari.
Begitulah Bode yang memilih perumpamaan untuk menggambarkan kisah Anna dengan
sangat cerdik.
/Salak anjing lari dari jiwa hutan,
rasa dingin lari dari tubuh salju, dan warna senja lari dari langit kelabu.
Lalu yang datang kepadamu, Anna./Mungkin rahasia atau kabar yang sederhana./. Baris
ini dapat dikatakan masuk ke dalam wilayah subjektif pengarang, di mana pada
baris ini pengarang menggunakan sebuah majas personifikasi yang akan
memunculkan banyak penafsiran yang tidak bisa ditentukan maksudnya dengan
mutlak. Jika berpijak pada data-data yang ada, maksud dari tiga perumpamaan
diatas adalah untuk menggambarkan Anna yang berani keluar dari zona nyamannya
sebagai warga Rusia. Ia berani mengambil resiko untuk menegakan hak azasi
manusia dengan cara menjadi seorang jurnalis yang hanya mengharapkan sebuah
rahasia dan kabar di sebuah wilayah.
C.
SIMPULAN
Analisis
dengan menggunakan teori struktural semiotik dan pendekatan mimetik di atas menunjukkan
bahwa karya sastra tidak dapat lepas dari sebuah realita sosial. Puisi karya Bode
Riswandi tersebut bukan hanya sekedar alegori atau cerita kiasan yang
diciptakan pengarang melainkan fenomomena yang benar-benar terjadi di
masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
Pradopo, D.R.
2012. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press
Wellek, R dan
Werren, A. 1989. Teori Kesusastraan. Jakarta: PT Gramedia.
Faruk,
2012. Pengantar Sosiologi Sastra. Yogyakarta:Pustaka
Pelajar
Faruk,
2012. Metode Penelitian Sastra. Yogyakarta:Pustaka Pelajar
Langganan:
Postingan (Atom)