Selasa, 08 Agustus 2017

Program Kehamilan di RS. Syafira Pekanbaru 2017

Usia dua puluh dua, Allah masih memberi kesempatan agar saya mau lebih giat memanjatkan doa. Sudah satu tahun pernikahan, saya belum juga hamil. 

Tulisan ini akan sangat detail mengenai pemeriksaan, sebab sebelumnya saya merasa sangat terbantu dengan banyaknya tulisan orang lain yang menceritakan pengalaman program kehamilannya, sehingga saya ingin melakukan hal serupa.

Sejak menikah pada 13 Juli 2016 lalu saya dan suami sudah mencoba beberapa hal sebagai ikhtiar untuk mendapat keturunan. Saya pernah mencoba konsumsi prenagen esensis, asam folat, madu penyubur, obat dari dokter, dan makanan alami lainnya yang katanya membantu kesuburan. Suami saya sudah sering mengonsumsi kemangi, toge, alpukat, jambu, madu dan obat penyubur lainnya. Hanya saja bulan Juli 2017 saya masih datang bulan. Akhirnya kami memutuskan untuk segera melakukan program kehamilan.

Di Pekanbaru, saya sering mendengar nama Dr. Suryo Bawono. Beliau adalah spesialis baby program yang sudah sering berhasil menangani pasien sulit hamil. Melihat instagramnya yang diikuti belasan ribu akun dan perkataannya yang selalu mengaitkan keturunan dengan izin Allah sempat membuat saya memiliki keinginan untuk menemui beliau. Hanya saja suami saya menginginkan program di dokter perempuan. Akhirnya kami pergi ke RS. Syafira pada tanggal 5 Agustus 2017.

Di RS. Syafira, kami memilih Dr. Befimiroza Adam Spog. Kata resepsionis beliau muslim dan sudah senior. Ketika masuk ke ruangannya, di luar ekspektasi ternyata dokternya masih muda. Saya langsung melakukan trans vagina. Di cek rahim, katanya bersih. Sel telur banyak tapi kecil-kecil. (Gejala PCOS)


Setelah itu, dokter meminta suami untuk cek sperma di Prodia. Dan saya diharuskan melakukan pemeriksaan HSG di hari ke-9 haid. Pemeriksaa HSG berguna untuk mengetahui apakah ada penyumbatan atau tidak di tuba palofi. Oh ya, saat trans vagina tersebut saya sedang haid hari ke 6, padahal waktu yang baik untuk cek sel telur adalah hari ke 2 haid. Jadi kalau teman-teman mau cek, mening hari ke dua aja ya.

Hmmm, saya banyak bertanya dan dokter menjawab seadanya.

Selesai pemeriksaan, dokter memberi resep 2 jenis obat untuk saya dan 1 jenis untuk suami.

Di kasir, kami harus membayar sekitar Rp. Rp. 1.500.000. Saya kaget, karena setau saya trans vaginal tidak lebih dari 200 ribu. Akhirnya saya tidak menebus obatnya karena ingin mengetahui hasil HSG terlebih dahulu. Jadi di hari pertama cek itu kami hanya mengeluarkan biaya sebesar Rp. 255.000 😅



Hari Senin sore tanggal 7 Agustus kami berangkat kembali ke Pekanbaru. Dua jam perjalanan, akhirnya kami sampai di Prodia pukul 7 malam. Ternyata kami harus booking terlebih dahulu dan kembali pukul 12 siang keesokan harinya. Akhirnya kami ke Paramita, di sana bisa langsung cek dan hasilnya bisa diambil pukul 9 pagi keesokan harinya. Biaya pemeriksaan sperma di Paramita Rp. 339.000. Hasil tesnya diceritakan di tulisan berikutnya.

Pulang dari Paramita, saya googling banyak tulisan tentang HSG. Banyak yang menceritakan rasa sakit yang dialami selama HSG. Saya mulai cemas. Ada tulisan yang mengatakan sakitnya HSG seperti sakit melahirkan dan sakitnya sulit dilupain. Saya makin takut. Untungnya, saya menemukan satu blog yang mengatakan bahwa HSG tidak sesakit yang dibayangkan. Blog itulah yang terakhir saya baca.

Keseokan harinya, kami pun langsung ke RS. Syafira. Setelah daftar di resepsionis, petugas radiologi membawa saya ke ruangan. Saya diminta membayar Rp. 650.000 lalu diminta menunggu.

Mulai cemas. Ruangannya di luar ekspektasi. Ternyata di ruang radiologi hanya ada tempat berbaring untuk rongten, tirai untuk ganti pakaian, alat2 entah apa, ruangan tertutup untuk memoto hasil rongten, dan AC yang sangat dingin. Suami saya tidak diizinkan masuk. Semakin khawatir. Badan gemeteran. Dan, proses HSG dimulai.

Saya diminta berbaring menggunakan sarung (sarung atulah wkwk) setelah sebelumnya memasukan obat penghilang nyeri lewat belakang. Dokter memasukan selang yang panjang ke rahim saya lewat vagina. Tidak sakit sama sekali Alhamdulillah. Kemudian Dokter radiologi menyemprotkan cairan kontras untuk mengetahui apakah tuba saya mengalami penyumbatan atau tidak. Jika ada penyumbatan, maka sel telur dan sel sperma tidak akan pernah bertemu. Dan penyemprotan itulah, saat-saat yang mungkin menurut orang lain sakit luar biasa. Alhamdulillah, saya hanya merasa ngilu beberapa detik seperti mules haid dan tidak sesakit yang dibayangkan. Sempat memang bilang sakit ke dokternya, dokternya langsung menghibur dan mengalihkan perhatian. Untungnya dokternya menyenangkan. Namanya Dr. Armelia. Sp. Rad. Ini hasil HSGnya. Oh ya, jangan lupa bawa pembalut, bisa jadi rumah sakit tidak menyediakan. Sebab selama perjalanan pulang cairan kontras yang disemprotkan biasanya akan banyak yang keluar. 





Kami diminta kembali ke poli kandungan. Alhamdulillah tidak ada masalah, tidak ada penyumbatan. Dokter akhirnya hanya memberi resep untuk menghilangkan keputihan dan obat penyubur. Di kasir, kami harus membayar 1.750.000 . Saya kaget lagi. Soalnya biaya HSG sudah bayar. Ternyata obat penyubur suami yang memang mahal. Sekitar 1.200.000. Saya dan suami berdiskusi terlebih dahulu dan memutuskan untuk menebus obat keputihan saja. Jadi kami hanya membayar Rp. 550.000. 

Kesimpulannya, saya menghabiskan biaya sekitar Rp. 1.795.000 untuk transvagina, cek sperma, cek HSG, pembersihan vagina dari keputihan, obat keputihan, konsultasi dokter 2 kali, dan biaya administrasi rumah sakit 2 kali. Dan kami belum menebus satu pun vitamin penyubur. Masih ingin mencoba makanan penyubur yang alami. Dan memperbanyak doa. :')

Tentang Dr. Suryo Bawono, tetangga saya sudah cek ke sana. Kita harus menyiapkan uang sekitar 2 juta atau lebih untuk pertama konsul (trans-v suntik, konsultasi, madu habbat, minyak ikan, dll). Mungkin biaya konsul tiap orang akan berbeda tergantung hasil pemeriksaan. Nah menurut hemat saya, jika ingin program kehamilan baiknya segera minta rujukan HSG dan cek sperma. Soalnya takutnya sudah konsumsi obat untuk 2 bulan tapi ternyata ada masalah di sperma dan hasil HSG. Jadi lebih baik memastikan dulu semuanya baik-baik saja. Hmm tapi bagaimana pun setiap dokter pasti lebih tahu apa yang harus dilakukan.

Dari pengalaman 2 kali berobat ini ada hal-hal yang saya pelajari.

1. Banyak mencari info terlebih dahulu tentang apa pun yang berhubungan dengan program kehamilan.
2. Ketika ketemu dokter tanyakan semua hal yang belum dipahami.
3. Ketika di kasir, minta penjelasan obat apa saja yang akan didapatkan, dan pertimbangkan mana saja yang benar-benar dibutuhkan. Jika memang tidak sreg dengan biayanya, bilang saja tidak akan ditebus. Kasir Syafira untungnya ramah dan tidak mempermasalahkan jika kita hanya membayar biaya admin (Rp. 15.000) dan konsultasi dokter (Rp. 90.000).
4. Dokter biasanya memberi resep setelah transvagina, menurut saya jangan dulu ditebus. Sebab jika hasil analisa sperma dan cek HSG bermasalah, bisa jadi kita memerlukan obat lain dan bukan penyubur. Jika semua hasil lab bagus, memang sebaiknya menebus semua obat penyubur yang disarankan dokter.

Begitu :')

Semoga cerita ini bermanfaat. Doakan kami agar lebih mampu bersabar dan pandai bersyukur, pandai menjaga tubuh dan menjaga ibadah. Allah maha mengatur banyak hal. Maha mengabulkan doa meski dengan banyak cara. Saya yakin bahwa banyak hal yang bisa dilakukan selama penantian. Wallahualam. Terima kasih sudah membaca :')

Buat temen-temen yang sudah membaca tulisan ini, bisa lanjut baca tulisan saya yang judulnya Tentang Keputusan Memilih Operasi, soalnya ternyata dari hasil cek sperma, diketahui bahwa suami saya yang bermasalah. Ceritanya bisa di lihat di Tentang Cek Sperma dan Keputusan Memilih Operasi


Buat yang nanya sekarang udah hamil atau belum, Alhamdulillah udah. Ceritanya bisa dibaca di https://resnaje.blogspot.com/2020/04/cerita-garis-dua.html

Instagram @resnaj 

Minggu, 26 Maret 2017

Melamar Pekerjaan

Awal Februari saya melihat brosur lowongan kerja menjadi guru di sekolah milik perusahaan Astra Agro Lestari. Saya langsung mengirimkan lamaran melalui surel. Lima belas Februari 2017, saya mendapat pesan dari perusahaan untuk mengikuti tes berikutnya di Amaris Hotel. Suami saya akhirnya meminta saya untuk mempelajari cooperative learning, mempelajari pertanyaan wawancara kerja,  matematika dasar, kurikulum, dan pedagogik.

Langkah pertama yang saya lakukan adalah membaca power point milik suami yang berisi tentang Cooperative Learning. Saya membaca lebih dari 15 jenis cl di SD dan SMP. Ada sedikit bayangan meski tidak bisa saya hafal semua. Selanjutnya, saya goolgling pertanyaan seputar wawancara kerja. Ada satu blog yang saya buka. Blog tersebut adalah blog yang muncul pertama di laman pencarian. Berisi 30 pertanyaan seputar wawancara. Saya berlatih tanya jawab dengan suami. Beberapa kali.

Setelah itu, sehari sebelum seleksi, saya pergi ke perpustakaan sekolah yang ada di belakang rumah untuk meminjam buku saku Matematika Dasar dan buku paket Bahasa Indonesia. Saya hanya mampu mempelajari Matematika kurang dari satu jam. Otak saya pening melihat rumus dan angka. Akhirnya saya beralih membaca silabus dan buku paket untuk memilih satu materi yang bisa dipakai untuk tes mikroteaching. Saya memilih fabel.

Saya lantas membuat RPP kurtilas, dan memutuskan untuk menggunakan metode Cooerative Script. Di tengah-tengah pembuatan RPP, saya dipusingkan memilih satu fabel yang bagus untuk diceritakan di awal pembelajaran. Sampai sore, RPP belum selesai, dan fabel yang tepat belum ditentukan.

Tetapi akhirnya sebelum berangkat ke Pekanbaru untuk bermalam di rumah saudara, saya bisa menyelesakan RPP tersebut. Fabel dan media belum teratasi.

Di rumah saudara, sebelum tidur saya membaca banyak fabel di internet dan akhirnya menemukan satu fabel yang dirasa tepat. Urusan fabel selesai, tapi urusan media dan cara mengajar belum sama sekali.

Suami akhirnya meminta saya untuk mempraktikan mikro teaching terlebih dulu.

Mikro teaching di depan suami nyatanya tidak mudah. Saya grogi. Dan berulang kali harus mempraktikan cara membuka pembelajaran di kelas. Suami akhirnya menyerah dan mengatakan kepada saya untuk berdoa saja. Saya tidur dalam keadaan tidak tenang. Saya belum membuat media. Perusahaan memang tidak meminta, saya hanya disuruh membawa alat tulis saat seleksi, tapi suami tetap meminta saya menyiapkan diri semaksimal mungkin. L

Subuh saya terbangun. Dan langsung terpikir untuk membuat origami binatang menggunakan kertas berisi fabel. Selepas shalat, saya membuat beberapa origami dengan cara searching terlebih dulu.

Pukul 6 saya tiba di hotel, suami langsung meninggalkan saya karena harus tetap mengajar. Tes pertama dimulai pukul sembilan. Sebelum dimulai, panitia mengingatkan kami bahwa jika diterima kelak, kami harus mau ditempatkan di manapun. Termasuk Sulawesi atau Kalimatan. Panitia juga menjelaskan tahap-tahap seleksi.

Tes tulis, wawancara, mikro teaching, medikal check up, training 3 bulan, baru dinyatakan layak jadi guru Astra atau tidak.

Tes pertama adalah pedagogik. Jawabannya pilihan ganda tetapi harus disertai penjelasan yang sangat rijit tentang alasan jawaban. Sembilan dari sepuluh soal berisi tentang cooperative learning. Satu soal lainnya tentang kurikulum. Semua pertanyaan merupakan ilustrasi. Dan jawaban kita adalah pengandaian jika kita menjadi guru. Untunglah saya sudah mempelajari cl sebelumnya. Jadi tidak begitu kesulitan.

Kesulitan saya adalah pada tes kedua, tes matematika dasar. Dua belas soal logika dan rumus. Empat tahun tidak bertemu matematika. Dan akhirnya dipaksa berpikir kembali. Begitu keras. Tetapi tetap saja hanya mampu menjawab separuhnya. Separuh yang lain saya bermain tebak-tebakan.

Pengumuman ditempel di jendela hotel pukul dua siang. Terdapat 17 nama. Salah satunya nama saya. Kami langsung diminta untuk memasuki ruang wawancara.

Di sana, kami ditanya kembali tentang kesiapan mengajar di luar Sumatra. Saya menjawab siap. Selanjutnya kami dibagi ke dalam tiga grup. Saya masuk grup pertama. Ada dua orang penguji di dalam ruangan tersebut. Kami diminta ke depan satu persatu.

Saya bisa menyaksikan rekan yang lain dipanggil satu persatu. Mereka berasal dari berbagai jurusan. Beberapa rekan yang dipanggil di awal diminta untuk mikro teaching. Selain itu, untuk jurusan PAI mereka ditanya hafalan Al-Qur'an masing-masing dan dites surat An-naba. Jurusan Bahasa Inggris diminta menerjemahkan koran secara langsung. Jurusan PGSD diminta untuk mengajar anak kelas 1 SD membaca.

Saya diapnggil terakhir. Saya sudah sangat siap jika diminta mikro teaching. Ketika saya di depan, saya tidak diminta untuk mengajar, tetapi menyanyikan gurindam. Tidak ada yang saya hafal. Saya lantas menjawab tidak bisa. Lalu saya diminta menyebutkan jenis-jenis pantun lama, saya hanya bisa menyebutkan 3.

Akhirnya saya diminta menjadi seorang reporter. Alhasil blah bloh. Wong saya nyiapin untuk ngajar. 😭😭😭 Selanjutnya pertanyaan mengarah ke cooperative learning, untunglah saya ditanya tentang metode CIRC. Saya bisa menjawabnya karena metode tersebut adalah variabel penelitian skripsi saya. Terakhir saya ditanya tentang skill lain selain kemampuan akademik.

Saya kembali ke tempat duduk dengan perasaan dongkol. Menyesal tidak hafal gurindam. Haha
Kami kemudian diminta untuk menunggu pengumuman berikutnya. Mohon doanya diberi yang terbaik. Semoga pengalamannya bermanfaat. Aamiin

Minggu, 14 Agustus 2016

Menyerahkan Perasaan Kepada Tuhan

Di pengujung Juli tahun ini, aku mencoba kembali menulis. Tidak lagi tentang masa silam, tapi tentangmu. Sebab Tuhan telah pilihkan kamu. Barangkali saat ini, bahumu akan menjadi satu-satunya tempat yang aku cari ketika kelelahan. Dan senyumanmu, dan segala permohonanmu kepada Tuhan tentangku, adalah dua hal yang akan sangat aku butuhkan.

Hari ini, aku ingin menuliskan cara Tuhan mempertemukan kita.  Agar kelak waktu tak lantas menghilangkan apa-apa yang sempat singgah. Aku ingin cerita kita bersemayam di sini. Di ingatanku. Juga di ingatanmu.

Dua puluh dua Desember dua ribu empat belas adalah kali pertama aku melihat wajahmu secara langsung. Beberapa minggu sebelumnya, kamu menghubungiku melalui pesan singkat. Pesan pertama, kamu mengenalkan diri. Pesan berikutnya, kamu menyampaikan maksud untuk bertaaruf. Aku langsung bertanya dari mana kamu mengenalku. Dari teman, katamu.

Aku mengatakan padamu bahwa aku tidak punya niat untuk menikah dalam waktu dekat. Masih kuliah dan ingin melanjutkan sekolah. Lantas kamu tetap mengatakan bahwa kamu bisa menunggu. Kamu begitu meyakinkan. Saat itu kamu memiliki rencana untuk menemuiku jika aku bersedia. Akhirnya aku mencari tahu data dirimu lebih jauh melalui sosial media terlebih dahulu.

Pernah berkuliah di UPI, jurusan Pendidikan Agama Islam, lulus tahun 2011, tinggal di Garut dan sedang mengajar di Riau. Informasi tersebut akhirnya membuat aku berani menceritakan tentangmu pada ibuku. Ibu bilang, aku tidak boleh bertemu denganmu jika tidak di rumah. Maka aku memintamu untuk datang ke rumah jika ingin bertemu.

Beberapa minggu setelah pesan pertama itu, kamu datang ke rumahku selepas magrib dengan pakaian basah karena hujan. Sebelum kamu datang, aku hanya memberi tahu Bapak bahwa ka nada seseorang yang bertamu.

Di ruang tamu, kamu mengenalkan diri setelah sebelumnya ibuku terlebih dahulu menyimpan oleh-oleh yang kamu bawa. Ada hal yang mengesankan saat itu, selama berbincang panjang lebar dengan Bapak, kamu lebih banyak menundukan pandanganmu. Matamu sayu. Bicaramu begitu santun.

Bapak akhirnya memberikan kesempatan padamu untuk berbicara denganku. Setelah kita bercerita tentang satu dua hal, akhirnya kita sama-sama terdiam dan kamu tiba-tiba bertanya. Jadi bagaimana, katamu. Aku tak lantas mengerti pertanyaanmu. Sebab aku mengira kamu hanya datang untuk mengenalkan diri secara langsung. Kamu lalu mengutarakan bahwa kamu bersungguh-sungguh untuk bertaaruf dan meminta jawabanku saat itu juga. Kamu memintaku kembali memanggilkan orangtuaku, kemudian kamu menyampaikan maksud utamamu ke rumahku kepada keduanya. Bapak begitu terkejut, pun dengan Ibu. Mereka sama sekali tak mengira bahwa arah pembicaraanmu seserius itu. Bapak akhirnya meminta waktu agar aku bisa memikirkannya terlebih dahulu.

Kamu pamit pulang. Meninggalkan sebauah pertanyaan yang begitu asing.

Saat itu, hal pertama yang aku pikirkan adalah seseorang yang tengah begitu dekat denganku. Malam itu aku ingin menghubunginya. Ingin membicarakan banyak hal, tapi dia menolak. Katanya dia sibuk dengan urusan kuliah. Keesokan harinya bapak memintaku untuk memikirkan pertanyaanmu matang-matang dan segera mengambil keputusan. Bapak mengatakan, kamu lelaki baik. Lantas aku menangis di hadapan ibu. Ia bertanya, apa yang membuat aku ragu menerimamu. Lelaki itu, kataku. Aku terlanjur menyusun harapan baik untuk bisa bersama lelaki itu kelak. Bagaimana dengannya, apa ia juga mempunyai harapan yang sama denganmu, ibu bertanya demikian. Entah, aku bilang pada ibu aku tidak tahu. Lantas Ibu semakin yakin bahwa aku seharusnya tidak memiliki alasan untuk menolakmu. Sebab menurutnya, hal penting dalam mencari pendamping hidup adalah memilih seseorang yang bersedia membimbing kita  menjadi seseorang yang lebih taat.   

Aku juga meminta pendapat kepada sahabatku. Ia mengatakan hal yang sama dengan ibu. Ia juga menyuruhku untuk menyerahkan segala urusan kepada Tuhan. Saat itu, shalat istikharah belum juga membuat aku genap menentukan pilihan.  Aku memberanikan diri menceritakan tentangmu pada lelaki itu. Kamu tahu jawabannya? Ia mengatakan bahwa semoga kamu adalah seseorang yang memang Tuhan pilihkan untukku. Begitu kurang lebih. Aku menangis saat itu. Sebab nyatanya keinginan kita kadang-kadang memang tak sejalan dengan rencana Tuhan.
Aku menyerahkan keresahanku saat itu kepada Tuhan. Ia yang telah mengirimkanmu secara tiba-tiba. Maka melalui istikharah aku benar-benar meminta petunjuk-Nya.

Jjika Engkau mengetahui bahwa perkara ini baik bagiku, duniaku, akhiratku, dan agamaku, maka takdirkanlah ia untukku, mudahkanlah untukku, dan berkahilah ia untukku. Jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini tidak baik untuk agamaku, hidupku di dunia, dan hidupku di akhirat, maka palingkanlah ia dariku dan palingkanlah aku darinya. Dan jadikanlah aku ridha atas semua yang telah Engkau takdirkan kepadaku.

Saat itu akhirnya aku memberimu jawaban melalui pesan singkat dengan perasaan yang masih ganjil. Aku menerimamu. Kamu memanjatkan syukur, kemudian mengingatkanku tentang tiga hal. Niat, ilmu, dan kesiapan untuk saling memperbaiki diri. Saat itu kita mesti segera meluruskan niat menikah hanya untuk mencari keridhaan-Nya. Kita mesti mulai mencari ilmu lebih banyak tentang pernikahan, sebab kita tahu menjalani peran setelah menikah bukan perkara mudah. Kita juga mesti segera memperbaiki diri agar lekas pantas di hadapan Tuhan ketika dipersatukan.

Beberapa hari setelah aku memberikan jawaban, kamu kembali ke rumah untuk membicarakan rencana berikutnya. Kamu datang ke rumah dengan kembali membawa makanan dan sebuah novel. Saat itu kamu sudah mengetahui bahwa aku begitu tertarik pada literasi.

Di ruang tamu, kita akhirnya memutuskan untuk melaksanakan khitbah pada bulan Juni 2015. Kita juga membuat beberapa kesepakatan yang kita tulis di sebuah kertas. Tidak menghubungi jika tidak ada hal penting dan mendesak. Tidak bertemu tanpa ditemani makhrom. Membaca minimal tiga referensi buku tentang pernikahan. Menghadiri pengajian minimal satu kali dalam seminggu. Menghadiri seminar-seminar pernikahan. Dan menikah setelah sidang atau wisuda.

Adalah sulit, menunggu bulan Juni dengan harus menjalani kesepakatan yang telah kita buat. Aku sering merasa bahwa Tuhan begitu giat memberi ujian. Perasaan ragu, datangnya lelaki lain, keinginan untuk melanjutkan sekolah lagi, dan ujian lainnya yang pada akhirnya hanya membuat aku semakin lalai memantaskan diri.

Beberapa kali aku meminta Ibu dan sahabat-sahabatku utuk meyakinkan aku bahwa semuanya harus aku teruskan. Sampai akhirnya kita bertemu kembali pada bulan Juni dua ribu lima belas. Ada yang tidak baik-baik saja.  Aku memang tidak menyesali acara khitbah itu, tidak juga merasa sedih. Hanya saja seharusnya saat itu aku merasa sangat bahagia, tapi aku tidak mampu merasakan apa-apa.

Akhirnya aku memasrahkan perasaanku kepada Tuhan. Berkali-kali aku meyakinkan diri bahwa Tuhan telah mengatur semuanya. Ia lebih mengetahui apa-apa yang baik untuk makhluk-Nya.

Selepas khitbah, kita akhirnya memulai penantian selama satu tahun menuju pernikahan. Beberapa kesepakatan bisa aku jalani dengan mudah, tapi beberapa yang lain begitu sulit. Jika aku melakukan kontak dengan lelaki lain tanpa ada hal mendesak, perasaan bersalah akan muncul dan begitu mengganggu. Perasaan ragu pun semakin lama semakin akut. Akhirnya aku mengalihkan keraguan itu dengan terus mendatangi seminar-seminar pernikahan yang bisa meyakinkan hatiku bahwa kamu adalah lelaki terbaik yang Tuhan pilihkan. Membaca banyak buku yang akhirnya menyadarkanku bahwa kehidupan bukan hanya persoalan mengurus perasaan, melainkan perjalanan untuk menghilangkan jarak dengan Tuhan.

Selama satu tahun penantian, kamu  jarang menghubungiku, pun sebaliknya. Sesekali kamu hanya menelepon orang tuaku untuk bertanya kabar. Selebihnya aku yakin kau tengah sibuk memperbaiki diri, sedangkan aku hanya sibuk memohon kepada Tuhan agar aku mampu menata hati dengan baik.

Semakin mendekati hari pernikahan, perasaanku belum juga berubah. Perasaan yang semestinya mulai ada, belum juga aku rasakan. Akhirnya aku terus mencari banyak hal yang bisa meyakinkanku agar tidak mengundurkan diri dari kesepakatan yang terlanjur kita buat.

Dari Abu Hurairah r.a. “Sesungguhnya  Allah Swt. pada hari kiamat berfirman: Di manakah orang-orang yang saling mencintai demi keagungan-Ku? Pada hari ini Aku akan menaungi mereka di bawah naungan-Ku pada hari ketika  tidak ada naungan kecuali naungan-Ku.” (HR. Muslim)

Hadits-hadits tentang cinta yang aku temukan pada akhirnya membuat aku yakin untuk menyempurnakan separuh agamaku dan memperbaiki cintaku kepada Tuhan dengan cara menikah denganmu.  

Dua ribu enam belas. Undangan, dekorasi, ketring, dan semua hal yang mesti disiapkan untuk pernikahan lebih banyak diurus oleh ibu dan bapak, sebab aku begitu sibuk mengurus skripsi dan kekhawatiran. 

Pada awal Juni, skripsiku akhirnya selesai. Aku mendapat tanda tangan dua dosen pembimbing dengan mudah. Sehingga dua puluh dua Juni aku bisa mengikuti sidang dan kemudian dinyatakan lulus.

Tiga belas Juli. Hari pernikahan itu tiba. Aku menikah denganmu, seseorang yang hanya aku temui beberapa kali. Satu-satunya lelaki yang berani menemui keluargaku secara langsung, mendekatiku dengan cara meminta kepada Tuhan terlebih dahulu, menjagaku dengan penjagaan terbaik  melalui doa-doa yang kamu panjatkan. Lelaki yang akhirnya membuat aku yakin bahwa cinta yang semestinya kita perjuangkan adalah cinta kita kepada Tuhan dan cinta Tuhan kepada kita. 
Sekarang, setelah menikah denganmu aku tidak harus lagi menyusun halaman-halaman skripsi, aku mulai menyusun perasaan demi perasaan yang entah apa namanya. Setelah setahun lebih bergelut dengan rasa ragu, pada akhirnya Tuhan tetap menginginkan aku menetap sebagai perempuanmu.

Semoga sekarang mataku adalah sebaik-baik tempat ketika kamu pulang.

 Riau, 2016

Senin, 07 Desember 2015

Membakar Penyamun

MEMBAKAR PENYAMUN*
Cerpen Resna J Nurkirana**
Sepasang matanya tengah disaput kekosongan. Sekarang Bapak nampak asing dan menyedihkan.
Semenjak peristiwa itu sering diberitakan, aku terus mencari kebenaran. Mencari jawaban atas kesedihan yang Bapak rahasiakan. Barangkali, kesedihan Bapak datang dari tuduhan orang-orang. Katanya Bapaklah yang menyebabkan kematian seorang begal.

Sekarang Bapak jadi lebih sering murung dan memilih mengurung dirinya di kamar. Kesedihan Bapak atas kepergian Ibu belum selesai, tapi  peristiwa ini, jelas telah membuat Bapak semakin terguncang.  Begitu hebat upaya Bapak mempersiapkan diri menghadapi kematian Ibu, sementara untuk tuduhan-tuduhan ini, ia sama sekali tak pernah menduga dan tak mempersiapkan apa-apa. Maka Bapak seolah ditimpa kesedihan yang lebih mengerikan. Bapak jadi sulit kuajak bicara. Ia semakin sering bersembunyi dan menatap jauh ke langit-langit

Luka yang Bapak sembunyikan dalam kantung matanya, aku yakin hanya kekecewaannya pada keadaan. Aku mencoba bersikap wajar, tapi pembicaraan orang-orang tentang Bapak tak juga berakhir. Maka sembunyi-sembunyi, aku mengikuti kemana pun desas-desus itu berembus. Mencari setiap cerita tentang seorang begal yang mati, juga seseorang yang telah membakarnya. 
Aku mencari keterangan dari cahaya yang masuk lewat atap rumah, mencari kebenaran dari angin yang membisik melalui celah jendela, dari suara-suara yang selalu membawaku kembali menghadapi kesedihan bapak, juga dari kabut, yang akhir-akhir ini sering menyelimuti kampungku ketika malam semakin larut.

Sejak kesedihan Bapak, sore hari hujan selalu turun dan tak membiarkan anak-anak bermain petak umpet atau pun egrang. Suara tawa dan tangis mereka jadi jarang terdengar, begitu pula suara gaduh para peronda. Kampungku mendadak senyap. Tapi sepertinya orang-orang masih terus saling berbisik dan menuduh. Bukan di sini. Melainkan di ruang lain, jauh di dalam kepala mereka. Di sebuah ruang kedap suara.

Kesunyian di kampung ini justru menjelma jadi suara-suara paling bergemuruh dalam kepalaku. Begal itu ditangkap. Diarak orang banyak. Sambil diseret, orang-orang terus memukulinya.
Mereka memotong jari tangan begal itu agar dengan begitu, ia tak bisa lagi memasukan apa-apa yang ada di dunia ini ke dalam mulutnya. Begal itu berteriak-teriak memohon ampun, tapi amarah orang-orang tak juga mereda.

Penyiksaan itu tak juga berhenti. Orang-orang merentangkan tangan begal itu dan hendak memotongnya. Tapi Bapak tiba-tiba masuk ke dalam kerumunan. Bapak menyiramkan bensin lalu melemparkan korek api yang karenanya tubuh begal itu terbakar, hangus dan mengenaskan.
Begitulah gemuruh itu menyampaikan cerita yang sesungguhnya padaku.
Hari ini aku mendengar mayat begal itu akan dipulangkan dari rumah sakit ke rumah duka. Maka aku tak berpikir lama. Aku bergegas untuk melihatnya. Tiba di sana, orang-orang telah berkerumun dan berdesakan. Barangkali mereka ingin mendapat posisi paling baik untuk melihat mayat seorang begal yang dibakar.

Aku mendesak masuk. Tiba di dalam rumah, aku dikagetkan dengan anak kecil yang tengah menjerit-jerit memanggil bapaknya. Ketika aku duduk dan menundukkan wajahku untuk berdoa, anak itu menangis lebih keras, meronta meminta pada orang-orang agar bisa membangunkan bapaknya. Aku menahan sesak luar biasa. Anak itu tiba-tiba membuka kain yang menutupi wajah bapaknya. Sebuah wajah yang kemudian membuat orang-orang mengernyit dan memalingkan muka. 

Dari orang-orang yang saling membisik, aku mendengar anak itu telah lama ditinggal mati oleh ibunya. Aku tak bisa bayangkan jika anak ini harus tetap menjalani kehidupan dengan sebagian miliknya yang telah hilang, bahkan hampir seluruhnya. Jeritan anak itu tak urung reda. Malah kini betul-betul membuat aku terpukul. Aku sekarang mengerti ketakutan macam apa yang telah Bapak sembunyikan di balik kantung matanya. Di sini, Bapak nyatanya telah menciptakan sebuah kehidupan yang begitu mengerikan, kesedihan seorang anak penyamun, yang hanya dengan kematian ia akan hilang.

Aku langsung berpikir untuk melakukan apa yang Bapak lakukan. Akan kutumpahkan bensin pada sekujur tubuh anak itu. Disusul dengan korek api yang akan menyulut habis rasa sakitnya. Nanti, aku hanya akan melihat kesedihan anak itu semakin lama semakin menguap.
Bapak pasti lega mendengar apa yang akan aku lakukan. Lalu setelahnya, aku akan memiliki mata serupa Bapak; disaput kekosongan, asing dan menyedihkan.

Februari 2015

*Begal Orang yang menyamun, Merampok, merampas


.


















dimuat di harian Pikiran Rakyat 22 November 2015

Sabtu, 30 Mei 2015

Bu, ajarkan aku melipat kenangan



  

Meski dimuat...

Wan,

dimuatnya wisata bahasa dalam pikiran rakyat sama sekali bukan sebuah penemuan jati diri.
hanya sedikit keanehan, serupa judul tulisannya yang memang diganti oleh editor koran.

wan, semester enam fase paling menyenangkan. di mana aku telah memilih jurnalistik sebagai konsentrasi perkuliahan. di dalamnya, seorang dosen mengajarkan kami beribu cara agar tulisan kami bisa dimuat di koran. kami juga diminta untuk mengirimkan satu opini setiap minggunya. dan nilai kami bisa a hanya jika tulisan kami ada yang lolos kurasi redaktur koran. dari itu, aku terpaksa menulis beberapa opini dan banyak wisata bahasa. hanya untuk dimuat.

saat akhir april, aku mencoba menulis hal yang paling aktual. maka aku menulis hardiknas. aku tak tahu harus menulis apa, sampai akhirnya aku teringat mata kuliah problematik yang diampu oleh pak mahmud. beliau sempat memahas materi terkait problematik dalam abreviasi. dan akronim hardiknas termasuk di dalamnya. mulailah aku menulis dan membuka lagi buku kuliah semester lima. aku kirim ke koran, dan pada saat hardiknas aku tak menemukan tulisanku di sana. putuslah asaku wan. hardiknas ini momentum dan tidak mungkin dimuat di hari lain.

akhirnya aku kembali menulis opini berjdul hedging jokowi, menulis wisata bahasa lagi berjudul "acan dan teu acan" lalu kembali berharap semoga sebelum uas salah satu tulisanku ada yang dimuat. lalu Allah begitu baik padaku, hari minggu pagi 24 mei 2015,saat kepalaku dipenuhi dengan bisnis kerudung, seseorang tiba-tiba mengirimkan foto koran, tepat pada kolom wisata bahasa yang di sana tertulis namaku wan. bahagialah aku. karena esoknya adalah batas akhir pengumpulan opini dan dosen akan mempertimbangkan nilai kami. maka dengan rasa syukur yang begitu besar, aku pun sedikit merasa lega untuk mata kuliah bernama "opini dan editorial" ini.

lalu aku tertegun ketika kamu berkomentar bahwa aku telah menemukan jalanku. tidak wan. aku tetap berharap ada cerpenku yang dimuat. maka wan, doakan aku. plis.

dan terima kasih atas foto-foto ini. karena kebahagiaan adalah mengenal kalian semua. semoga Allah membalas kebaikan dengan kebahagiaan yang berkali-kali lipat.







Senin, 27 April 2015

Warna Ibu

Bu, kenangan denganmu tak akan berubah warna. Tentang siang dengan langit mendung sepanjang perjalanan. Tentang kaki kita yang jauh menyusuri trotoar. Tentang tanganmu yang begitu sulit mengambil potretku. Tentang bajumu yang tak sengaja kutumpahi makanan. Tentang pancake yang kaubelikan untukku. Aku mencintai kenangan kita yang tak akan berubah warna, Bu. Aku mencintaimu. 




art emotikon

Jumat, 24 April 2015

LIST ESAI ASAS

Ini esai Reboan yang berhasil saya arsipkan selama bergiat di ASAS. Bagi teman-teman yang tertarik membaca salah satu atau beberapa esainya, mangga hubungi saya. Nanti saya buat salinannya. smile emotikon
1. Alusi dalam puisi-puisi Cecep Syamsul Hari (Fajar M Fitrah)
2. Ketimpangan gender dalam novel "Entrok" (Dedi Sahara)
3. Dalam lipatan kain, tubuh menjadi representasi simbolik manusia (Zulfa Nasrulloh)
4. Bali, tempat melihat Putu Telanjang (Resna J Nurkirana)
5. Membaca Sesuatu "Dalam Lipatan Kain" (R Abdul Azis)
6. Memahami cerpen, lukisan, dan buku pelajaran (Resna J Nurkirana)
7. Sedikit pengantar menyoal apresiasi sastra (Fuad Jouharudin)
8. Serangkum Sejarah Singkat (R Abdul Azis)
9. Esai dan hal-hal yang tak selesai (Dedi Sahara)
10. Menerawang kumpulan puisi Lambung Padi Karya Heri Maja Kelana (Wishu Muhamad)
11.Puisi, Pengalaman, dan Gumam (Ahda Imran)
12. Rolling Stones, sebuah pembacaan sajak-sajak penyair ASBE 2013 (Willy E. Cahyadi dan Tono Viono)
13. Esai Pengantar Seputar Esai (Roby Aji)
14. Sastra; dari syair Bimbo hingga Epik Luo Guanzhong (Tono Viono)
15. Perkembangan kelmpok teater kontemporer Indonesia (Yopi Setia Umbara)
16.Memandang Ilmu dan Secuil Persoalan Bahasa Indonesia (Sany R Apriad)
17. Al-barzanji: Puji-pujian Menuju Tuhan (Mustafa Reza Raihan Sind)
18. Di tubuh erotis, membaca Bugis: Puisi-puisi Aslan Abidin "Bahaya Laten Malam Pengantin" (Willy Fahmy Agiska)
19. Menyembunyikan Hasrat ala Kakek Charlie (Muhammad Maruf)
20. Membaca puisi-puisi asal Sumatra Barat: Sebuah Wacana Lokalitas (Fajar M Fitrah)
21. Mengulik Bentuk Puisi Aan Mansyur "Mengalimatkan dan Mengalamatkan" (R. Abdul Azis)
22. Tanda-Tanda Bimbang Bahasa (Faisal Syahreza)
23. Berawal dari Kata, Budi Darma Jungkir Balik lagi (Zulfa Nasrullah)
24. 4 puisi 4 penyair ASAS (R. Abdul Azis)
25. Absurditas Camus: Interpretasi pada "Orang Asing" (Dedi Sahara)
26. Mekanisme pertahanan dan emosi dalam cerpen "penembak misterius" dan "sarman" karya Seno Gumira Ajidarma (Muhammad Ma'ruf)
28. Memikirkan Perasaan: Sebuah proses dan apresiasi (R. Abdul Azis)
29. The other side dari novel Pulang dan Tragedi (Muhammad Maruf)
30. Polemik Sastra Sufistik, Profetik, dan Relijius (Resna J Nurkirana)
31. Menyingkap Puisi: Menarikan bahasa, membebaskan imajinasi (Faisal Syahreza)
32. Estetika Skizofernia: Kemungkinan dan Ketidakmungkinan Membaca "Museum Penghancur Dokumen" (Dedi Sahara)
33. Kesepakatan Mengalmarhumkan Hendrawan (M Adhimas Prasetyo)
Bagi para penulis esai reboan yang namanya ada di sini atau tidak, sila mengirimkan softfilenya ke email saya y. Nanti Insyaallah akan diposting di blog atau di group ASAS. Resnaje@gmail.com

puisi pasir























di pesisir sawarna,
orang-orang memintaku menulis hal paling dekat dan sederhana,
pasir misalnya.
tapi aku menulis masa lalu dan dirimu.

april 2015

Rabu, 25 Maret 2015

Menyimak Hujan

Kautakkan pernah mampu menyimak hujan.
Kau hanya mendengar suaranya secara pasif dan spontan. 
Suatu ketika, aku pernah menerima informasi dari suara derasnya di luar kamar. 
Itu karena aku mendengarkan dengan sungguh-sungguh, sengaja, dan penuh kehati-hatian.
Ia bercerita banyak hal. 
Termasuk tentangmu.
Saat itu, aku segera memekakan pendengaranku 
aku menerima getaran akustik yang diubah ke dalam sinyal-sinyal yang dapat dimengerti oleh pikiranku.
Suara tetesan itu kemudian menjelma, menyandi kata-kata yang meyebut namamu.
Ah, kukatakan sekali lagi, kautakkan mampu menyimak hujan.

Senin, 02 Maret 2015

Sepasang Mata Kemarin

Kau hidup di kehidupan yang jauh berbeda dengan Ibu. Sekarang ini, kau bisa datang ke hari kemarin, kemarinnya lagi, atau dua atau tiga tahun kemarin. Lalu jika kau betah, kau memang tak usah kembali ke hari ini. Kau bisa hidup di sana dan berbicara dengan kata-kata. Bahkan, kau bisa habiskan harimu dengan bersemayam pada sepasang mata yang begitu kau cintai.

Sabtu, 14 Februari 2015

Bukan Cinta yang Memilihmu

(Untukmu yang tengah merindukan cintanya dan cinta-Nya)















Allah SWT berfirman pada hari kiamat, “Mana orang-orang yang saling mencintai demi keagungan-Ku. Hari ini Aku akan menaungi mereka di bawah naungan-Ku pada hari ketika tidak ada naungan kecuali naungan-Ku.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah r.a.)

Jika selama ini kausulit terjemahkan cinta, maka aku mencoba mencari pengertiannya dari sudut pandang Islam. Ibn al Qayyim (1) mengatakan bahwa kata cinta dalam Al Qur’an disebut hubb (mahabbah) dan wudda (mawaddah), keduanya memiliki arti yang serupa yaitu menyukai, mengasihi, atau menyayangi.

Cinta juga berarti ittiba wa tha’ah, ikut dan taat. Artinya, hanya dengan cinta kita bisa mengikuti atau menaati suatu hal tanpa paksaan. Lalu sebagai muslim, jelas kiranya bahwa dalam kehidupan ini Allah adalah pelabuhan dan sumber cinta itu sendiri. Allah SWT ialah satu-satunya Zat yang mencintai kita dengan sempurna.

Sesungguhnya dalam Al-Qur’an, telah dijelaskan bahwasannya manusia akan cenderung mencintai apa-apa yang telah Allah ciptakan. Namun, dalam Al-Qur’an pula Allah mengingatkan umatnya agar tidak jatuh terlalu jauh mencintai dunia.  

Katakanlah: Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah  sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (QS. At-Taubah: 24)  

Hadits yang dikutip di awal tulisan ini menyatakan bahwa Allah membolehkan kita mencintai sesuatu yang bersifat duniawi, tetapi tetaplah harus didasarkan karena kecintaan kita kepada Allah SWT.

Dapat kita ambil kesimpulan, dalam islam, cinta tidak selalu identik dengan lawan jenis. Jika cinta yang kaumaksud adalah cinta kepada lawan jenis, itu adalah Gharizah An-Nau (Naluri seksual). Gharizah An-Nau dalam Islam sangatlah penting. Dengan naluri inilah manusia bisa melestarikan dirinya. Dengan naluri inilah bisa lahir para mujahid baru untuk menegakkan islam di muka bumi.

Allah menegaskan dalam Al-Qur’an berkali-kali. Ia memerintahkan kita untuk mencitai suatu hal karena Allah. Maka termasuk kepada lawan jenis, kita diperintahkan untuk memilihnya hanya semata-mata karena cinta kita kepada Allah. Lalu bagaimana menyikapi Gharizah An-Nau atau naluri seksual agar tidak menjerumuskan kita pada hal yang tidak dicintai Allah?

Allah menciptakan suatu hukum yang tidak mungkin tidak bisa kita taati. Dalam Al-Qur’an, ada banyak solusi untuk menyikapi Gharizah An-Nau ini. Interaksi laki-laki dan perempuan telah diatur dalam islam. Ada tujuh rambu yang mesti kita patuhi dalam hal ini.
  1. Ghadul Bashar (Menundukan Pandangan)
  2. Menutup aurat
  3. Menjauhi khalwat (Berdua-duaan dengan yang bukan makhrom)
  4. Meminta ijin suami saat keluar rumah
  5. Menghindari safar (bepergian) 24 jam tanpa makhrom
  6. Membentuk jamaah yang terpisah antara perempuan dengan laki-laki
  7. Mengusahakan hubungan laki-laki dan perempuan yang bukan mukhrim hanya sebatas hubungan umum bukan hubungan khusus.
Dengan tujuh rambu di atas, maka InsyaAllah manusia bisa mengendalikan gharizah an-naunya.

Setiap orang tentu pernah atau akan merasakan cinta kepada lawan jenis. Allah tak pernah melarangnya, karena Allah sendirilah yang mengatur hati kita. Tapi sudahkah kita mencintai seseorang karena Allah? inilah yang sulit. Saling mencintai karena Allah memang tak asing di telinga namun begitu sulit diaplikasikan. Bagaimanapun, mencintai karena Allah merupakan tahap manusia mencapai sebaik-baiknya iman. Hal ini tertera dalam hadits berikut.

Barang siapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, atau memberi karena Allah, dan tidak mau memberi karena Allah, maka sungguh orang itu telah menyempurnakan imannya." (HR. Imam Abu Daud)

Cinta kita kepada Allah adalah bukti iman kita kepada-Nya. Maka tidak akan bisa kita beriman jika kita tidak mencintai Allah. Serti tidak akan pula kita disebut mencintai Allah jika kita tidak mencintai apa-apa yang Allah cintai. Beruntunglah mereka yang telah mencintai Allah dan Rasullullah dengan sebaik-baiknya cinta. Lalu bagaimana dengan kita yang masih disibukkan dengan urusan cinta terhadap sesama manusia, terhadap lawan jenis khususnya.

Kesungguhan mencintai karena Allah bisa dilihat dari bagaimana kita menyikapi perasaan yang Allah anugerahkan, bisa dilihat dari bagaimana kita menyikapi sebuah kedatangan atau kepergian seseorang, serta menyikapi rasa kehilangan atau peristiwa perpisahan. Terkadang, kita sering kali tidak ridha jika Allah menunjukkan kuasa-Nya dengan cara mengambil kembali sesuatu yang kita cintai. Padahal bisa jadi hal itu merupakan cara Allah mengingatkan kita bahwasannya hanya Allah lah yang patut kita cintai.

Tentang kehilangan. Kaupasti pernah merasakannya. Barangkali itu adalah cara Allah mencintaimu dan membuatmu mencintai-Nya. Bagaimana pun Allah mengetahui sedang kita tidak mengetahui. Karena itu, umat muslim tak pernah punya alasan untuk merasa putus asa. Meski kehilangan adalah nyeri yang sulit diobati, tapi dapat dipastikan Allah telah menyiapkan kejutan lain yang tidak pernah kita sangka.

Mencintai karena Allah. Mengaplikasikan cinta jenis ini dalam kehidupan bukanlah perkara mudah. Kauakan banyak temui sepasang manusia yang saling mengutarakan cinta karena Allah tapi diantara mereka belum ada ikatan yang halal. Bagaimana mungkin keduanya saling mencintai karena Allah tetapi sesuatu yang telah Allah tetapkan tak mereka hiraukan. Bukankah cinta adalah ittiba wa tha'ah. Salah satu hukum Allah yang sering kali kita langgar tanpa disadari ialah persoalan menundukkan pandangan dan menjaga hati.

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS. An-nur: 30)

Jadi, jangankan menjalin sebuah hubungan sebelum menikah, saling memandang dengan yang bukan makhrom saja Allah sudah melarang. Untuk menghindari hal tersebut, kita mesti banyak memohon pertolongan Allah agar kita bisa menjaga mata dan hati kita.

“Jika datang kepada kalian orang yang bagus agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia (dengan putrimu)!” (HR Imam Tirmidzi dari Abu Hatim Al-Mazni.

Begitulah Rasulullah memberi jalan keluar. Ia memerintahkan kita untuk menyatukan cinta dalam ikatan pernikahan. Tapi jika diantara dua insan belum memiliki kesiapan menikah, dan cinta telah terlanjur bersemi, maka aku mengutip apa yang dikatakan Tere Liye.

“Daun yang jatuh tak pernah membenci angin, dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja. Tak melawan, mengikhlaskan semuanya.” (Sunset Bersama Rosie-Tere Liye)

Ketika cinta sudah terlanjur memenuhi ruang hati kita, maka ikhlaskanlah cinta dan rindu tersebut pada Allah. Biar Allah yang menentukan kelanjutan perasaan kita. Biar Allah yang menyatukan kita dengan orang yang kita cintai pada sebaik-baiknya waktu dan pertemuan. Selama penantian menunggu jawaban Allah, kita bisa belajar untuk meluruskan niat menikah, memperbaiki diri, serta mencari ilmu sebanyak-banyaknya tentang jodoh dan pernikahan. Serahkanlah, Allah telah menyiapkan untuk kita pasangan yang telah ditulis dalam kitab Lauh Mahfuz. Wallahualam Bishawab. Semoga kita termasuk ke dalam manusia yang mencintai seseorang karena Allah. Aamiin.

Lalu bagaimana jika Allah menyuguhkan padamu sebuah pilihan yang membingungkan?

"Ya Allah sesungguhnya aku memohon petunjuk-Mu yang baik dengan pengetahuan-Mu, dan aku memohon kekuatan dengan kekuatan-Mu, dan aku memohon kemurahan-Mu yang luas, karena sesungguhnya Engkau maha kuasa dan aku tidak memiliki kekuasaan itu, begitu pula Kau mengetahui yang ghaib-ghaib. 

Dan bila Engkau tahu sesungguhnya hal ini baik bagiku untuk agamaku, kehidupanku, dan masa depanku, maka pastikan dia padaku dan mudahkanlah dia padaku, kemudian berikan rahmat padanya. Dan Engkau mengetahui bahwasannya kejahatan bagiku, untuk agamaku, hidupku, dan hari kemudianku, maka jauhkanlah dia dariku dan jauhkanlah aku darinya. Dan berilah kebaikan padaku, di mana saja aku berada, kemudian jadikanlah aku orang yang ridho dengan pemberian itu." 

Sesungguhnya, urusan manusia telah ada dalam kuasa-Nya. Allah mengetahui segala sesuatu yang baik bagi hamba-Nya. Betapa kita sesungguhnya lemah dan tidak mengetahui apa-apa. Pada akhirnya, do'a istikharah mengingatkan kita untuk bisa menyerahkan semua pilihan yang ditawarkan dunia hanya kepada-Nya. Semoga kita menjadi orang yang selalu ridha dengan pilihan-Nya. Semoga tulisan ini bisa menjadi pengingat untuk diri sendiri agar aku dapat terus berusaha mencintai seseorang hanya karena Allah SWT. Aamiin Ya Rabbalalamin.

Terakhir, aku mengutip sebuah lirik lagu. Semoga kita bisa mengaplikasikan apa yang ada dalam lirik berikut.
“Bukan cinta yang memilihmu, tapi Allah yang memilihmu untuk kucintai.” – Kang Abay


(1) al Jauzi dalam kitab Raudlat al Muhibbin wa Nuzhat al Musytaqin, 



Resna J Nurkirana-
Februari 2015

Sabtu, 07 Februari 2015

Selepas Hujan Februari

Ialah kabut, titik-titik air yang dengan matamu yang lain, kaubisa lihat ia berwarna ungu. Ia serupa selimut yang sesekali luruh menjadi butiran lembut, dingin dan membelai ingatan tentang kekasihmu. Lalu biasanya, ia utuh kembali, membawamu pada dingin paling asing, mengingatkan orang-orang yang telah jauh meninggalkanmu.

2015